Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Advertising’ Category

Advertising adalah salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan produknya dimana unsur kreatif sangat penting untuk men-deliver pesannya

Keberhasilan advertising adalah menciptakan attention untuk meningkatkan awareness dan membuat konsumen untuk mau mencoba produknya sehingga produk yang dijual akan meningkat penjualannya.

Advertising Effectiveness sendiri adalah merupakan pengukuran yang memperlihatkan kontribusi komunikasi iklan (khususnya TV) terhadap level cognitive (Awareness) kepada Affective (Kesukaan + Minat beli) sampai ke Connative (Usage) terakhir sampai ketingkat loyalitas konsumen

Pengukuran Advertising Effectiveness sangat diperlukan Untuk melihat efektifitas dari kampanye komunikasi yang telah dilakukan, sehingga kedepannya kita bisa menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk menjadikan produk kita bisa berkompetisi dipasar.

Informasi pasar yang didapat dari survei kepuasan palanggan ini digunakan untuk sebagai sarana melihat tingkat kepuasan konsumen dan melihat efektifitas kegiatan kampanye promosi dan pemasaran yang telah dilakukan sehingga kedepannya untuk merumuskan strategi-strategi pemasaran yang efektif untuk periode berikutnya

Read Full Post »

Kalau soal harga, remaja tidak terlalu sensitif seperti layaknya kaum wanita dewasa atau ibu. Sebab, mereka belum merasakan susahnya mencari uang dan masih bergantung sepenuhnya kepada orangtua. Seandainya mereka sangat suka kepada suatu produk dan uang sakunya tidak mencukupi, mereka akan menggunakan 1001 cara membujuk orangtuanya untuk membelikan produk tersebut.

Siapakah trendsetter mereka? Hanya orang-orang tertentu yang sangat menonjol di kelompok yang bisa dijadikan panutan oleh teman-temannya. Menilik sifat mereka yang masih sangat labil, mereka cenderung mencari sosok dari luar sebagai panutan, termasuk untuk tren yang sedang “in“ saat itu. Seringnya, yang menjadi panutan ABG adalah artis atau penyanyi band yang sedang top. Apa pun yang dilakukan atau dipakai oleh sang idola, akan mereka ikuti.

Karena pola mereka mengikuti trendsetter, ABG belum memiliki loyalitas terhadap brand tertentu. Mereka sangat mudah dipengaruhi lingkungan, terutama teman. Jika teman berubah dari merek A ke merek B, mereka akan cenderung mengikuti. Terlebih, perasaan ingin mencoba sesuatu yang baru masih sangat tinggi, sehingga brand switching paling mudah terjadi di kategori remaja.

Maka, unsur yang harus diperhatikan pada saat menggarap pasar ABG adalah tren yang sedang “in“ saat itu. Kemudian, mencermati ritme kehidupan mereka sejak pagi hari, di sekolah, lingkungan pergaulan, keluarga dan sebagainya. Lalu, tampilan komunikasi yang menggunakan grouping of buddies akan sangat membantu karena 99% dari remaja memang cenderung berkelompok. Ditambah lagi, menggunakan figur idola remaja saat itu akan bisa menjadi shortcut yang sangat efektif.

Mereka cenderung mengedepankan emotional benefit. Apa yang dianggap tren saat itu, dianggap “cool” oleh teman-temannya, apa pun yang dipakai oleh para idola mereka, pasti akan dibeli atau dicoba tanpa mengindahkan functional benefit. Kadang juga tanpa mengindahkan faktor value for money (kontennya). Melihat sifatnya yang sangat unstable, sebenarnya segmen ini merupakan sasaran empuk para marketer yang jeli melihat loop holes produk-produk yang memang ditujukan untuk kaum remaja. Apalagi jika pendekatannya tepat, menggunakan bahasa gaul mereka, dan menggunakan figur idola mereka.

Sedangkan komunikasi below the line yang tepat adalah yang bersifat mengumpulkan massa. Karena di usia mereka, kebutuhan untuk tampil, untuk dilihat dan melihat, untuk diakui keberadaannya, masih sangat tinggi. Pagelaran musik, lomba kecantikan atau event yang sifatnya massal akan efektif dan pasti mendapat tanggapan positif. Community marketing masih belum terlalu berjalan karena masih sangat terbatas sifatnya. Kumpulan atau kelompok yang mereka ikuti masih sebatas sekolah dan pergaulan sehari-hari dan biasanya sifatnya belum tetap, masih akan cepat berubah. Ada beberapa strategi kunci para marketer untuk sukses di segmen ini. Pertama, product differentiation, yaitu kelebihan signifikan yang dimiliki oleh produk tersebut. Apakah akan cukup menarik minat remaja untuk mencoba atau membeli produk ini (trial purchase).

Kedua, competition. Berkaitan dengan product differentiation di atas, kita juga harus melihat kompetisi yang ada di pasar. Jangan hanya berbeda dari segi produk saja, tetapi pendekatan yang dilakukan ke konsumen juga harus berbeda. Jangan pernah menjadi “me too“ atau follower dalam segalanya. Lakukanlah inovasi-inovasi dalam komunikasi. Karena remaja memang selalu tertarik dengan hal-hal baru, yang aneh, nyeleneh dan yang lain dari yang lain, walaupun tetap harus membumi.

Ketiga, cost and risk. Menciptakan produk yang berbeda dengan komunikasi inovatif memang butuh biaya yang tidak sedikit. Tetapi, jangan mempertaruhkan investasi dengan menetapkan harga terlalu tinggi demi mencapai dua poin di atas. Walaupun, kaum ABG tidak terlalu sensitif terhadap harga, tetapi mereka juga punya batasan-batasan tertentu karena mereka masih sepenuhnya tergantung pada uang saku yang diberikan orangtuanya. Jadi, perhitungan yang matang antara cost and risk tetap menjadi prioritas utama.

Keempat, creating a perceive value. Kaum ABG belum mempunyai satu ketegasan sikap dalam hidup. Mereka masih mencari jati diri, sehingga sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekelilingnya. Jadi, jika berhasil menciptakan sebuah perceive value dari produk yang kita pasarkan (entah itu melalui packaging, komunikasi iklan, ambassador/bintang iklan), akan sangat membantu untuk action to buy.
Terakhir, SWOT Analysis masih merupakan basic dari perhitungan untuk memasarkan sebuah produk.

Read Full Post »

Iklan yang disukai oleh konsumen tentunya sangatlah penting. Setiap pengiklan dan biro iklan yang menangani iklan, pasti berupaya agar iklannya disukai. Iklan yang disukai, biasanya akan sangat membantu tingkat awareness dari merek tersebut.

Iklan yang disukai juga sangat penting dalam membentuk perasaan suka terhadap merek tersebut. Bagaimana menjelaskan bahwa iklan yang disukai dapat mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen terhadap merek tersebut ? Banyak teori yang dapat menjelaskan hal ini. Salah satunya adalah teori Classical Conditioning yang dikembangkan oleh Pavlov. Teori ini sederhana dan dikonsepkan berdasarkan suatu eksperimen sederhana pula.

Kira-kira ekperimennya adalah seperti berikut; Ada instrumen atau alat yang dapat mengeluarkan bunyi, makanan dan seekor kucing yang lapar. Setiap kali alat berbunyi, kemudian diikuti dengan pemberian makanan kepada kucing tersebut. Karena lapar, kucing akan mengeluarkan air liur melihat makanan yang diberikan kepadanya. Hal ini diulang-ulang terus menerus. Alat dibunyikan, makanan diberikan, kucing mengeluarkan air liur sebagai respon terhadap stimulus dan kemudian makan.

Setelah berkali-kali, kucing akan belajar bahwa setiap alat dibunyikan, maka makanan pasti akan diberikan. Oleh karena itu, saat alat dibunyikan, maka kucing tersebut sudah memberikan respon dan keluar air liurnya sebelum makanan diberikan.

Iklan dapat diibaratkan dengan makanan dan alat instrumen adalah merek suatu produk. Dalam hal ini, kucing diperankan oleh pemirsa. Saat pertama kali melihat suatu iklan yang disukai, pemirsa akan memberikan reaksi dalam bentuk perasaan suka dan sikap yang positif, sama seperti kucing yang memberikan respon dalam bentuk air liur. Lama kelamaan, karena suka terhadap iklan tersebut maka pemirsa akan timbul rasa suka terhadap merek tersebut. Karena itu,sangatlah penting untuk mempunyai iklan yang disukai oleh konsumen.

Hasil survei Omnibus Dwisapta 2007 menunjukan bahwa iklan Sampoerna A Mild, Lux Coca Cola, Extra Joss, Mie Sedap, La Light, Dancow, Gudang Garam, Indomie, adalah 10 iklan yang paling disukai oleh pemirsa Indonesia.

Bila melihat hasil survei tersebut, terlihat ada beberapa persamaan yang dimiliki oleh iklan-iklan tersebut. Iklan-iklan tersebut, umumnya mempunyai kreativitas yang baik, unik atau relatif berbeda dengan iklan-iklan pada umumnya, menggunakan humor atau hal-hal yang lucu dan sebagian menggunakan artis yang terkenal atau sebagian menggunakan musik.

Pertama, keunikan dari hasil suatu kreativitas jelas sangat penting. Setiap hari, pemirsa televisi dibombardir dengan ratusan iklan. Iklan-iklan yang tidak memiliki keunikan, sangatlah sulit untuk menancap dalam benak konsumen dan mempunyai peluang kecil untuk disukai.

Kedua, pengaruh talen atau artis terkenal memang luar biasa. Dapat dikatakan, iklan-iklan yang disukai tersebut, 90% menggunakan artis yang sudah sangat terkenal dan familiar buat konsumen Indonesia.

Ketiga, terlihat ada hubungan yang erat antara iklan yang disukai dan iklan yang dianggap lucu. Sama seperti konsumen di belahan dunia yang lain, orang Indonesia juga senang dengan iklan yang lucu dan penuh dengan humor. Ini memberikan pesan kepada para pengiklan agar tidak terlalu memaksakan memberikan informasi yang terlalu banyak dan menjadi iklan yang membosankan.

Keempat, yang terlihat nyata adalah bahwa iklan yang disukai adalah iklan yang mempunyai frekuensi yang tinggi atau didukung dengan budget yang tinggi. Tentunya, ini pesan yang tidak menyenangkan buat para produsen kelas menengah yang tidak mempunyai budget yang besar.
Kelima, Hal ini tidak kalah pentingnya Iklan yang disuka dan bisa menancap dibenak konsumen adalah iklan yang simple dan gampang dicerna, hal ini disesuaikan dengan pola pikir dan gaya hidup orang Indonesia yang masih berbau ketimuran.

Akhirnya, iklan yang disukai, biasanya mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pemilihan merek. Sekarang tinggal gimana kita menyikapinya ? yang jelas Iklan yang creative adalah iklan yang disuka dan bisa menjual

 

Read Full Post »

Tahun 2007 jelas menjadi sejarah tak terlupakan bagi insan periklanan Indonesia. Setelah sekian lama hanya mentok sebagai penggembira di ajang kompetisi kreatif iklan tingkat regional dan internasional, kini karya Indonesia mampu unjuk gigi. Ya, Citra Parivvara (CP) tahun lalu bertajuk “Survival Change” mampu membuahkan hasil.

Setidaknya, sepanjang tahun 2007 karya kreatif anak bangsa mampu merebut metal di ajang Asia Pacific Advertising Festival, Cannes Lions dan New York Festival. Berawal dari karya Indonesia berjudul Floating Hands yang mampu merebut perak di Asia Pacific Advertising Festival, kejayaan insan kreatif tanah air makin menguak.

Iklan serupa rupanya mampu meraih perunggu di adu kreatif Cannes Lions 2007. Perunggu lain dari Cannes Lions juga mampu digondol iklan cetak permen karet Big Babol karya Draft FCB: Tak ketinggalan, iklan layanan masyarakat anti-AIDS karya Randy Rinaldy juga berhasil menggondol emas di ajang New York Festival.

Jadi, jangan heran kalau hasil CP 2007 ke-21 itu tak boleh mengalami kemunduran. Alias, karya-karya iklan yang terjaring dalam CP ke-21 itu harus mampu berjaya lagi di ajang festival tingkat regional maupun internasional. “Oleh karena itu, standard penjurian CP 2007 semakin ditingkatkan lagi,” ungkap Narga S. Habib, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI).

Tema CP 2007 “Aim Higher”, yang diartikulasikan dalam jargon Only the Great Prevail dikibarkan. Dewan juri “yang didominasi para juri asing diharapkan mampu menyeleksi sejumlah karya iklan anak bangsa— yang notabene bakal diadu lagi di festival iklan manca negara. Ya, dewan juri di bawah pimpinan Chief Creative Officer TBWA Jepang John Merrifield (kategori utama) dan Executive Creative Director BBDO Malaysia Ronald Ng (kategori craft), harapan akbar CP 2007 disandarkan.

Malam anugerah CP 2007 yang digelar pada penghujung November 2007, akhirnya berhasil menentukan jajaran jawaranya. Agency Terbaik diraih JWT Indonesia; Production House Terbaik direbut 25 Frames; Advertiser Terbaik digondol Prambors Rasisonia dan Museum Wayang Indonesia.

Masih dalam hajatan akbar para insan kreatif iklan Indonesia itu, pasangan Iswanda Mardio dan Dimaz Muktiarto dari Publicis Indonesia dikukuhkan menjadi pasangan Daun Muda Award. Mereka terpilih mewakili Indonesia di ajang “Young Lotus” Asia Pacific Adfest, Pattaya, pada tahun 2008.

Bahkan, sejumlah nama biro iklan sukses menggondol beberapa penghargaan. Sebut saja, PT Hakuhodo Indonesia sukses menggondol 3 bronze di kategori Automotive & Its Related Products, untuk iklan Nissan berjudul Tough. Di kategori Candy & Snack, PT Hakuhodo Indonesia juga berhasil menggondol 2 Silver dan 3 Bronze untuk iklan Lotte Green Gum berjudul bushman 1 dan bushman 2.

Di kategori Non Conventional Medium (Innovative Ad) dan Advertising on Internet and Mobile Phone, PT. Hakuhodo Indonesia kembali berjaya. Ya, iklan Car Insurance berjudul Ruler mampu memperoleh 2 Silver di kategori Non Conventional Medium. Sementara iklan Nissan Frontier Navara berjudul Crash Test—yang juga buatan PT Hakuhodo Indonesia —sukses meraih 3 Bronze.

Hoh Woon Siew, Executive Creative Director PT Hakuhodo Indonesia, yang juga salah seorang juri CP 2007 menilai bahwa para pemenang hasil penjurian CP 2007 adalah entry-entry yang memang layak berkompetisi di sejumlah festival kreatif periklanan mancanegara.

Sementara itu, di mata John Merrifield, Ketua Juri CP2007, periklanan di Indo­nesia sangat potensial untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Lantaran, Indonesia memiliki keragaman budaya lokal serta kemajemukan penduduk yang tidak didapat di negara lain. Menurutnya, ide kreatif bisa datang dari mana saja, bahkan bisa dimulai dari melakukan apa yang disukai. “Tak ada yang bisa didapat jika kita membuat iklan karena punya niat menang award. Akan lebih baik, jika bikin iklan yang dapat memberi impact yang dahsyat,” ujar John, saat menjadi pembicara di seminar hari kedua CP 2007.

Read Full Post »

Makin semrawutnya medium konvensional sebagai sarana beriklan memicu para pengelola biro iklan dan pemasar mencari alternatif lain sebagai medium beriklan agar pesannya men­jadi efektif dan efisien. Sejumlah pengiklan di kota-kota besar telah memanfaatkan ambient media untuk memecah perhatian konsumen. Pasalnya, tujuan utama dari ambient adalah bagaimana konsumen memperoleh a memorable experience dari kegiatan komunikasi yang dirancang. Tentunya di luar medium konvensional.

Sehingga kegiatan ini banyak ditemui pada kegiatan below-the-line yang terintegrasi dengan media. Ambient juga bisa ditemui di dalam ruangan seperti mal, restoran, toilet dan media advertising. Pemasar yang memanfaatkan medium ini masih di dominasi oleh pemasar besar yang menjual produk fast moving consumer goods (FMCG), telekomunikasi, perbankan, rokok dan otomotif.

Di sudut-sudut Jakarta, tepatnya di sekitar Jalan Sudirman hingga Bundaran Hotel Indonesia, tampak bentuk-bentuk unik yang mampu menyedot perhatian orang yang hilir mudik di jalan utama itu. Rata-rata ambient berukuran besar. Ini membuktikan bahwa ambient media sudah mulai banyak dipilih oleh para pemasar.

Read Full Post »

Hampir dua bulan sekali Cecilia Arianti mengunjungi toko kosmetika langganannya di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Gadis berusia 15 tahun itu pasti segera mencari produk kecantikannya di kala stok sudah menipis. Pond’s menjadi salah satu produk yang paling ia sukai karena cocok dengan wajahnya.

Ternyata, pilihan Sisil—panggilan akrab Cecilia Arianti—juga menjadi pilihan banyak remaja lainnya. Hasil survei yang dilakukan oleh Spire Research & Consulting belum lama ini menunjukkan, remaja berusia 13-18 tahun memang mengetahui dan menyukai Pond’s. Setidaknya, dari 1.000 responden di lima kota besar (Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar), sebesar 40%-nya menyatakan mengetahui dan 18%-nya menyukai merek Pond’s.

Menanggapi hasil survei tersebut, manajemen Unilever Indonesia mengungkapkan, sesungguhnya formula Pond’s (pembersih dan pelembab) tepat untuk kulit para remaja dan perempuan Asia, khususnya Indonesia. Format dasar Pond’s White Beauty adalah vanishing base yang mudah menyerap pada kulit. Pond’s mengerti bahwa di negara tropikal seperti Indonesia, kulit cenderung lebih berminyak dibandingkan di negara-negara Eropa atau Amerika.

Maka dari itu, Pond’s mengajak remaja putri untuk mulai mengerti pentingnya ritual perawatan kulit. Sebab, apabila terawat sejak dini, kondisi kulit akan tetap prima sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Juga, membantu remaja itu sendiri dalam menggapai cita-cita dan kehidupan sosialnya. Menurut Fiona Anjani Foebe, Senior Brand Manager Pond’s, para remaja putri di masa puber sudah mulai memperhatikan kepentingan merawat diri dan kecantikan, terutama wajah. Karena, kehidupan sosial sangat penting bagi mereka. Kecenderungan itu membuat mereka mencari produk-produk kecantikan yang cocok. Selaku produsen Pond’s, Unilever Indonesia tak mau menyia-nyiakan peluang itu.

“Dari karakter remaja putri yang kami ketahui, kemudian kami menuangkannya menjadi ide komunikasi iklan dan aktivitas-aktivitas lain yang menarik. Contohnya, Pond’s Dream Access,” kata Fiona. Pond’s Dream Access (PDA) yaitu previledge card khusus untuk remaja putri di Bandung, Jawa Barat, yang penuh percaya diri, memiliki pergaulan luas, open-minded, gaya, dan siap untuk eksis. Berdasarkan consumer insight yang digali Unilever Indonesia, ternyata menunjukkan eksistensi diri bagi remaja putri di kota Bandung amat penting. Mereka menyatakan dirinya sosok yang penuh rasa percaya diri, utamanya akan kecantikan yang dimiliki. Mereka juga menikmati kecantikannya tersebut dan berusaha untuk tampil beda agar eksistensinya diakui oleh lingkungan sekitarnya.

Program PDA yang diluncurkan pada akhir Juli 2007 ini direncanakan berlangsung satu tahun dengan meluncurkan tiga edisi kartu PDA, yaitu Pink PDA, Green PDA, dan Gold PDA. Pink PDA diperkenalkan sebagai kartu edisi perdana dan pada catur wulan kedua diganti dengan Green PDA, selanjutnya pada catur wulan ketiga diganti menjadi Gold PDA. Pada pertengahan tahun 2008, akan diumumkan siapa yang berhak mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan mimpi dan tampil menunjukkan eksistensinya. Para remaja putri pemegang kartu PDA dapat menikmati berbagai diskon harga di merchant-merchant terkemuka, seperti boutique dan distro, kafe, salon, studio foto, atau karaoke. Di akhir ajang tersebut, bagi remaja putri terpilih yang memiliki ketiga kartu PDA akan memperoleh kesempatan mengikuti kelas eksklusif. Di kelas tersebut mereka akan diajarkan menjadi penyanyi, model, atau presenter profesional.

Dari masing-masing kelas akan dipilih satu pemenang. Pemenang itu akan mendapatkan kesempatan menjalani impiannya, umpamanya menjadi cover girl majalah, berduet dengan penyanyi terkenal, atau menjadi announcer radio. Mereka juga berkesempatan memenangkan paket liburan impian ke Phuket, Thailand. Dan bukan cuma itu. In-store activation dan school to school & mall road show (Pond’s White Class & Pond’s Beautylogy) merupakan langkah-langkah lain yang dilakukan Unilever Indonesia untuk lebih mendekatkan merek Pond’s kepada target market-nya. Penyelenggaraannya dibantu oleh para activation agency dengan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk reaching awareness pada target market tersebut. Cerita cinta (romance) adalah topik yang sangat relevan terhadap kehidupan remaja. Karena itu, apabila diperhatikan secara saksama, ujar Fiona, di iklan-iklan Pond’s ada sisipan pesan emosional yang berhubungan dengan romantika atau cinta agar menjadi lebih relevan terhadap audience-nya.

Dari sisi penyebaran produk, tim sales dan distribusi Unilever Indonesia juga telah berhasil menempatkan Pond’s White Beauty mulai dari pasar modern (hipermarket, supermarket, minimarket) hingga general trade (toko kosmetika, toko kelontong). Sehingga, harganya pun mempunyai range yang pas terhadap setiap income level (mass maupun semi-premium). Oleh sebab itu, selain Pond’s White Beauty, ada pula Pond’s Flawless White dan Pond’s Age Miracle untuk wanita yang lebih tua. 

Yang pasti, dengan langkah-langkah seperti itu, awareness dan penjualan Pond’s diketahui cukup menggembirakan. Sayangnya, Fiona menolak menyebutkan seberapa besar angka yang membuat Unilever gembira. Ia hanya menjawab, “Hasilnya cukup baik dan penjualan kami selalu tumbuh setiap tahun. Kunci sukses kami adalah selalu berpicu kembali kepada kebutuhan konsumen, mengenal konsumen, dan up-to-date dengan cara-cara baru menggapai konsumen”.

Untuk diketahui, Unilever Indonesia beroperasi sejak tahun 1933 dan telah tumbuh menjadi perusahaan penyedia consumer products dengan puluhan merek, salah satunya Pond’s. Pada tahun 2006, perusahaan ini berhasil meraih pertumbuhan laba bersih sebesar 19% atau menjadi Rp 1,7 triliun. Sementara itu, penjualannya tumbuh sebesar 13,4% menjadi Rp 11,3 triliun. Pertumbuhan itu semakin mengukuhkan kekuatan Unilever Indonesia sebagai market leader di consumer product.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.