Feeds:
Tulisan
Komentar

Waduh ini lagu keren abis,dalem bgt, kena bgt.., gut luk buat yovie & NuNo.

Masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah pertanda
cinta tak di sini lagi
kau tlah berpaling

reff:
biarkan aku menjaga perasaan ini, ohh
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi, aku takkan pergi
kau menjauh, aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meski ku lihat kini
kau di seberang sana

repeat reff

andai akhirnya
kau tak juga kembali
aku tetap sendiri
menjaga hati

repeat reff [3x]

sejujurnya diriku masih mengharapkanmu

Tampil Gaya dan Gandrung Musik Pop

Temuan hasil riset yang dilakukan Spire Research & Consulting yang bekerja sama dengan Majalah MARKETING untuk melihat perilaku, tren, dan kesukaan anak remaja terhadap merek dalam berbagai jenis kategori, yang meliputi makanan dan minuman, fashion, telekomunikasi, media, dan lainnya. Survei dilakukan di lima kota besar (Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar) dengan melibatkan 1.000 responden yang berumur 13-18 tahun atau masih duduk di bangku SMP dan SMA dengan level SES C ke atas. Berikut hasil survei per kategori.

1. Kesehatan dan Kualitas

Hasil riset menunjukkan Snack merupakan makanan kegemaran mereka. Namun, pemilihan kategori produk snack di kalangan remaja sangat beragam dan belum ada suatu produk yang menjadi market leader ataupun mendominasi pasar ini. Dari sekian banyak produk snack, hasil survei menunjukkan bahwa Chitato merupakan merek yang paling disukai oleh para remaja, diikuti oleh Taro dan Cheetos. Untuk produk biskuit, Oreo merupakan produk yang paling disukai di kalangan remaja pada umumnya. Namun, dibandingkan kota lainnya, remaja di Jakarta-lah yang paling menyukai Oreo (22%). Sebaliknya, remaja di Surabaya yang suka dengan merek ini hanya 10%.

Dalam hal minuman, dewasa ini pengetahuan remaja dalam berbagai minuman sudah sangat luas. Akan tetapi mereka masih kurang paham tentang kategori dari minuman tersebut. Salah satu temuan yang menarik di sini adalah ternyata minuman Pocari Sweat oleh kalangan remaja digolongkan sebagai minuman isotonik sekaligus merupakan soft drink. Pocari Sweat, Mizone dan Vita Zone merupakan merek minuman isotonik yang paling digemari oleh sebagian besar kaum remaja. Rata-rata para remaja di lima kota yang disurvei mengkonsumsi dua kaleng/botol minum isotonik dalam seminggu.

Di kategori soft drink, minuman keluaran PT Coca-Cola Indonesia tampak merajai pasar ABG. Fanta, Coca-Cola dan Sprite bertengger di posisi teratas merek soft drink yang paling sering dikonsumsi dan paling dikenal dalam kehidupan para remaja pada umumnya. Mereka mengkonsumsi sebanyak 2 botol/kaleng dalam kurun waktu satu minggu.

Sementara itu, dalam pemilihan restoran, mereka tetap lebih menyukai restoran fastfood seperti Kentucky Fried Chicken (KFC) atau McDonald’s. Rasa makanan, promosi, dan paket yang ekonomis telah mendorong mereka cenderung menyukai kedua restoran waralaba tersebut. Untuk restoran yang menghidangkan makanan asli Indonesia, merek Wong Solo juga cukup digemari oleh mereka.

Butuh tampil gaya

Nevada merupakan merek pakaian yang paling disukai sekaligus paling banyak dikenal oleh para remaja. Frekuensi pembelian pakaian ini dilakukan oleh kebanyakan remaja tiap 6 bulan kurang sampai 12 bulan sekali. Selain kategori pakaian, merek sepatu yang paling disukai oleh remaja. Di kategori ini, merek Converse (All Star) berada di posisi teratas, diikuti oleh Adidas dan Nike. Kebanyakan remaja membeli sepatu setiap 6-12 bulan sekali. Daya tahan sepatu dan model yang tidak cepat berubah menjadi faktor yang menyebabkan remaja relatif jarang membeli sepatu.

Sudah Jadi Gaya Hidup

Handphone sudah menjadi gaya hidup sekaligus kebutuhan tidak hanya bagi remaja, namun juga bagi semua kalangan.

Berdasarkan hasil survei, mayoritas remaja dari lima kota besar di Indonesia memilih Nokia, disusul oleh Sony Ericsson, sebagai merek handphone yang paling diketahui. Nokia dan Sony Ericsson pun merupakan merek ponsel terfavorit bagi para ABG. Keberadaan fitur-fitur terkini, seperti kamera dan musik ditambah dengan brand awareness serta user-friendly, membuat kedua merek ponsel ini paling banyak dimiliki oleh remaja.

Alasan utama bagi kebanyakan remaja dalam pemilihan sebuah produk dan tipe ponsel adalah dari sisi kelengkapan fungsinya, (seperti MP3 Player, radio, kamera, dan lain-lain). Untuk Operator seluler IM3 merupakan operator seluler yang paling banyak digunakan oleh remaja.

Merek IM3, XL, kartu As, dan Simpati di kategori GSM; dan Flexi untuk kategori CDMA merupakan produk yang paling umum digunakan oleh kalangan remaja di lima kota besar tersebut. Mereka membeli pulsa dalam nominal Rp 10.000-25.000. Tetapi, dibandingkan dengan frekuensi pengisian pulsa mereka (rata-rata 1-2 kali seminggu), maka dalam sebulan kebanyakan remaja mengisi pulsa rata-rata sebesar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Sudah Jadi Gaya Hidup

Handphone sudah menjadi gaya hidup sekaligus kebutuhan tidak hanya bagi remaja, namun juga bagi semua kalangan.

Berdasarkan hasil survei, mayoritas remaja dari lima kota besar di Indonesia memilih Nokia, disusul oleh Sony Ericsson, sebagai merek handphone yang paling diketahui. Nokia dan Sony Ericsson pun merupakan merek ponsel terfavorit bagi para ABG. Keberadaan fitur-fitur terkini, seperti kamera dan musik ditambah dengan brand awareness serta user-friendly, membuat kedua merek ponsel ini paling banyak dimiliki oleh remaja.

Alasan utama bagi kebanyakan remaja dalam pemilihan sebuah produk dan tipe ponsel adalah dari sisi kelengkapan fungsinya, (seperti MP3 Player, radio, kamera, dan lain-lain).

Tarif murah dan konten menarik yang disediakan menjadi salah satu faktor utama ketertarikan kaum remaja terhadap Operator Seluler. Di sini, IM3 merupakan operator seluler yang paling banyak digunakan oleh remaja. Merek IM3, XL, kartu As, dan Simpati di kategori GSM; dan Flexi untuk kategori CDMA merupakan produk yang paling umum digunakan oleh kalangan remaja di lima kota besar tersebut.

Kebanyakan mereka membeli pulsa dalam nominal Rp 10.000-25.000. Besarnya uang jajan yang diterima menyebabkan mereka membeli pulsa dalam nominal yang relatif sedikit. Tetapi, apabila dibandingkan dengan frekuensi pengisian pulsa mereka (rata-rata 1-2 kali seminggu), maka dalam sebulan kebanyakan remaja mengisi pulsa rata-rata sebesar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Berita Semakin Disukai

Trans TV dan RCTI merupakan stasiun TV yang paling banyak disukai oleh remaja. Acara televisi yang paling mereka sukai adalah Bioskop Trans TV, Bagi remaja zaman sekarang, berita sudah merupakan salah satu acara televisi yang disukai. Ketertarikan mereka pada berita di televisi ini didukung oleh cara penyajian berita yang semakin menarik dan lebih informatif, Sementara itu, acara radio yang paling disukai oleh remaja adalah musik.

Di sisi lain, internet merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi. Hasil survei menunjukkan bahwa para remaja sudah mengerti dan menggunakan internet dalam kegiatan sehari-hari. Walaupun sebagian besar dari mereka masih menggunakan jasa warnet sebagai tempat untuk mengakses internet untuk mengerjakan tugas sekolah, bermain game ataupun hanya browsing.

Friendster merupakan salah satu dari situs yang paling sering dikunjungi oleh sebagian besar ABG. Untuk search engine, kaum remaja lebih suka menggunakan Yahoo dan Google.

Dengan internet, para remaja dapat menghabiskan waktu mereka kurang lebih 1-2 jam untuk sekedar chatting, mencari berita, mengecek e-mail hingga bermain game online. Aktivitas mengakses internet ini dilakukan pada sore hari sekitar jam 14.00– 18.00. Dalam seminggu mereka melakukan pengaksesan internet sebanyak 2 kali, dan dibandingkan mengakses internet di rumah, mereka lebih senang melakukan aktivitas tersebut di warnet.

Pasha Paling Favorit

Dalam dunia musik, remaja masih menyukai musik pop dan tren ini masih tetap stabil. Pasha (Ungu), Peterpan, dan Kerispatih merupakan grup band yang cukup melekat di benak remaja sebagai ikon musik mereka. Tidak ketinggalan dengan grup band pendatang baru Samson yang berhasil menarik perhatian sebagian besar remaja.

Untuk pemilihan grup band asing mereka lebih menyukai jenis musik yang dibawakan oleh Linkin’ Park atau pop rock yang dibawakan oleh kelompok musik Muse dan penyanyi Avril Lavigne.

Di samping musik, hangout merupakan salah satu kegiatan yang digemari remaja di kota-kota besar. Mal merupakan tempat hangout favorit yang paling banyak dikunjungi oleh remaja.

Belum Banyak Menabung

Hanya 24% yang memiliki rekening tabungan, sedang 76% lainnya belum memiliki. Bagi mereka yang memiliki tabungan, rata-rata menabung sebesar Rp 50.000–100.000.

Bank Central Asia (BCA) menjadi pilihan untuk menyimpan tabungan mereka. Jenis bank yang digunakan oleh orangtua mereka dan terpaan iklan turut mempengaruhi keputusan remaja untuk menggunakan BCA .

ETNOGRAPHY

Mendengar kata itu tentu menimbulkan pertanyaan besar tentunya, yang jelas membuat kita ingin tahu binatang apa lagi yang ada didalamnya. Dibidang pemasaran memang hal tersebut masih cukup baru digunakan. Namun bagi kaum antropolog hal tersebut sudah jadi rutinitas. Lalu kenapa pula disebut etnography? Ya karena itu merupakan bagian dari anthropology namun hanya sebagian kecil saja karena kalau anthropology kita harus mengamati dan mendalami secara keseluruhan sedangkan etnography sendiri hanya bagian kecil saja yang diamati kalau di bahas secara harfiah makna Etno = etnis dan grahy = pemetaan.

Berbicara tentang riset tentu kita hanya mengenal 2 katagori saja yaitu kualitatif dan kuantitatif . so.. jadi etnography masuk bagian kuantitatif dengan tehnik yang berbeda dan menyerupai tehnik anthropology. Dengan semakin banyaknya produsen ditiap jenis produk dan semakin semakin pintarnya konsumen dalam menentukan produknya maka riset kualitatif dan kuantitatif saja tidak cukup. Karena justru banyak hal – hal yang ingin sekali kita ketahui dari konsumen namun tidak terungkap Biasanya jika hal yang biasa dilakukan responden itu adalah hal yang biasa baginya jadi tidak ada sesuatu yang unik bagi dirinya namun kalau dilihat dari kacamata kreatif dan marketing justru hal itu merupakah AHA moment. Jadi etnography tersebut untuk menjawab hal – hal yang ditidak terungkap sehingga harus diamati langsung .

Contoh kasus Seorang anak pengusaha yang sedang dirawat dirumah sakit ternama dan termahal dijakarta, sering mengeluh tentang pelayanannya yang dianggap lambat, perawatnya yang tidak ramah, dokternya yang jarang hadir, kamar mandi yang jarang dibersihkan, sikat dan pasta gigi yang tidak disediakan, Ac yang kurang dingin dan menu makanan yang tidak sesuai selera, akhirnya keluhannya itu disampaikan kekeluarganya dan kerabatnya lalu dengan segera anak tersebut dipindahkan kerumah sakit disingapura.

Kalau dikilik dari management sendiri ternyata rumah sakit tersenut selalu menyiapkan kuesioner kepuasan pelanggan untuk segera diisi namun memang kebiasan orang kita yang tidak suka mengatakan sesuatu yang jelek didepan orangnya langsung menyebabkan hal tersebut tidak dapat terungkap dengan detail. Sehingga disetiap hasil riset yang diterima selalu mendapatkan hasil yang positif  atau bisa jadi  hal tersebut dinilai management bukan sesuatu yang penting.

Memang kalau kita melakukan ethnography, kita hanya menemukan hal – hal yang rutin dilakukan jadi kalau dilihat secara kasat mata bukan sesuatu yang unik karena sudah menjadi rutinitas. Namun setelah hal yang rutinitas dan dianggap unik diboomingkan justru lebih melekat dihati masyarakat, sudah banyak contohnya : Oreo dengan mengandalkan cara makan seorang anak laki – laki, surf yang pernah jadi pemenang dalam lomba iklan yang lebih mengedepankan pamitan dengan ibunya yang sedang mencuci baju, ini teh  susu yang dipromosikan lewat susu bendera serta celoteh anak dari dancow. 

Selain melakukan pengamatan, agar lebih dalam menyelami tentu harus masuk kedalam bagian orang yang diamati atau disebut juga dengan “Participant observasion” sehingga didapatkan data – data dengan lengkap karena jawaban yang didapatkan akan lebih natural dan lebih luwes.  Namun tentu setiap program tentu ada sisi negatifnya donk , diantara memakan biaya tinggi dan menyita waktu yang tidak sedikit.  

Tahun 2007 jelas menjadi sejarah tak terlupakan bagi insan periklanan Indonesia. Setelah sekian lama hanya mentok sebagai penggembira di ajang kompetisi kreatif iklan tingkat regional dan internasional, kini karya Indonesia mampu unjuk gigi. Ya, Citra Parivvara (CP) tahun lalu bertajuk “Survival Change” mampu membuahkan hasil.

Setidaknya, sepanjang tahun 2007 karya kreatif anak bangsa mampu merebut metal di ajang Asia Pacific Advertising Festival, Cannes Lions dan New York Festival. Berawal dari karya Indonesia berjudul Floating Hands yang mampu merebut perak di Asia Pacific Advertising Festival, kejayaan insan kreatif tanah air makin menguak.

Iklan serupa rupanya mampu meraih perunggu di adu kreatif Cannes Lions 2007. Perunggu lain dari Cannes Lions juga mampu digondol iklan cetak permen karet Big Babol karya Draft FCB: Tak ketinggalan, iklan layanan masyarakat anti-AIDS karya Randy Rinaldy juga berhasil menggondol emas di ajang New York Festival.

Jadi, jangan heran kalau hasil CP 2007 ke-21 itu tak boleh mengalami kemunduran. Alias, karya-karya iklan yang terjaring dalam CP ke-21 itu harus mampu berjaya lagi di ajang festival tingkat regional maupun internasional. “Oleh karena itu, standard penjurian CP 2007 semakin ditingkatkan lagi,” ungkap Narga S. Habib, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI).

Tema CP 2007 “Aim Higher”, yang diartikulasikan dalam jargon Only the Great Prevail dikibarkan. Dewan juri “yang didominasi para juri asing diharapkan mampu menyeleksi sejumlah karya iklan anak bangsa— yang notabene bakal diadu lagi di festival iklan manca negara. Ya, dewan juri di bawah pimpinan Chief Creative Officer TBWA Jepang John Merrifield (kategori utama) dan Executive Creative Director BBDO Malaysia Ronald Ng (kategori craft), harapan akbar CP 2007 disandarkan.

Malam anugerah CP 2007 yang digelar pada penghujung November 2007, akhirnya berhasil menentukan jajaran jawaranya. Agency Terbaik diraih JWT Indonesia; Production House Terbaik direbut 25 Frames; Advertiser Terbaik digondol Prambors Rasisonia dan Museum Wayang Indonesia.

Masih dalam hajatan akbar para insan kreatif iklan Indonesia itu, pasangan Iswanda Mardio dan Dimaz Muktiarto dari Publicis Indonesia dikukuhkan menjadi pasangan Daun Muda Award. Mereka terpilih mewakili Indonesia di ajang “Young Lotus” Asia Pacific Adfest, Pattaya, pada tahun 2008.

Bahkan, sejumlah nama biro iklan sukses menggondol beberapa penghargaan. Sebut saja, PT Hakuhodo Indonesia sukses menggondol 3 bronze di kategori Automotive & Its Related Products, untuk iklan Nissan berjudul Tough. Di kategori Candy & Snack, PT Hakuhodo Indonesia juga berhasil menggondol 2 Silver dan 3 Bronze untuk iklan Lotte Green Gum berjudul bushman 1 dan bushman 2.

Di kategori Non Conventional Medium (Innovative Ad) dan Advertising on Internet and Mobile Phone, PT. Hakuhodo Indonesia kembali berjaya. Ya, iklan Car Insurance berjudul Ruler mampu memperoleh 2 Silver di kategori Non Conventional Medium. Sementara iklan Nissan Frontier Navara berjudul Crash Test—yang juga buatan PT Hakuhodo Indonesia —sukses meraih 3 Bronze.

Hoh Woon Siew, Executive Creative Director PT Hakuhodo Indonesia, yang juga salah seorang juri CP 2007 menilai bahwa para pemenang hasil penjurian CP 2007 adalah entry-entry yang memang layak berkompetisi di sejumlah festival kreatif periklanan mancanegara.

Sementara itu, di mata John Merrifield, Ketua Juri CP2007, periklanan di Indo­nesia sangat potensial untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Lantaran, Indonesia memiliki keragaman budaya lokal serta kemajemukan penduduk yang tidak didapat di negara lain. Menurutnya, ide kreatif bisa datang dari mana saja, bahkan bisa dimulai dari melakukan apa yang disukai. “Tak ada yang bisa didapat jika kita membuat iklan karena punya niat menang award. Akan lebih baik, jika bikin iklan yang dapat memberi impact yang dahsyat,” ujar John, saat menjadi pembicara di seminar hari kedua CP 2007.

Makin semrawutnya medium konvensional sebagai sarana beriklan memicu para pengelola biro iklan dan pemasar mencari alternatif lain sebagai medium beriklan agar pesannya men­jadi efektif dan efisien. Sejumlah pengiklan di kota-kota besar telah memanfaatkan ambient media untuk memecah perhatian konsumen. Pasalnya, tujuan utama dari ambient adalah bagaimana konsumen memperoleh a memorable experience dari kegiatan komunikasi yang dirancang. Tentunya di luar medium konvensional.

Sehingga kegiatan ini banyak ditemui pada kegiatan below-the-line yang terintegrasi dengan media. Ambient juga bisa ditemui di dalam ruangan seperti mal, restoran, toilet dan media advertising. Pemasar yang memanfaatkan medium ini masih di dominasi oleh pemasar besar yang menjual produk fast moving consumer goods (FMCG), telekomunikasi, perbankan, rokok dan otomotif.

Di sudut-sudut Jakarta, tepatnya di sekitar Jalan Sudirman hingga Bundaran Hotel Indonesia, tampak bentuk-bentuk unik yang mampu menyedot perhatian orang yang hilir mudik di jalan utama itu. Rata-rata ambient berukuran besar. Ini membuktikan bahwa ambient media sudah mulai banyak dipilih oleh para pemasar.

Hampir dua bulan sekali Cecilia Arianti mengunjungi toko kosmetika langganannya di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Gadis berusia 15 tahun itu pasti segera mencari produk kecantikannya di kala stok sudah menipis. Pond’s menjadi salah satu produk yang paling ia sukai karena cocok dengan wajahnya.

Ternyata, pilihan Sisil—panggilan akrab Cecilia Arianti—juga menjadi pilihan banyak remaja lainnya. Hasil survei yang dilakukan oleh Spire Research & Consulting belum lama ini menunjukkan, remaja berusia 13-18 tahun memang mengetahui dan menyukai Pond’s. Setidaknya, dari 1.000 responden di lima kota besar (Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar), sebesar 40%-nya menyatakan mengetahui dan 18%-nya menyukai merek Pond’s.

Menanggapi hasil survei tersebut, manajemen Unilever Indonesia mengungkapkan, sesungguhnya formula Pond’s (pembersih dan pelembab) tepat untuk kulit para remaja dan perempuan Asia, khususnya Indonesia. Format dasar Pond’s White Beauty adalah vanishing base yang mudah menyerap pada kulit. Pond’s mengerti bahwa di negara tropikal seperti Indonesia, kulit cenderung lebih berminyak dibandingkan di negara-negara Eropa atau Amerika.

Maka dari itu, Pond’s mengajak remaja putri untuk mulai mengerti pentingnya ritual perawatan kulit. Sebab, apabila terawat sejak dini, kondisi kulit akan tetap prima sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Juga, membantu remaja itu sendiri dalam menggapai cita-cita dan kehidupan sosialnya. Menurut Fiona Anjani Foebe, Senior Brand Manager Pond’s, para remaja putri di masa puber sudah mulai memperhatikan kepentingan merawat diri dan kecantikan, terutama wajah. Karena, kehidupan sosial sangat penting bagi mereka. Kecenderungan itu membuat mereka mencari produk-produk kecantikan yang cocok. Selaku produsen Pond’s, Unilever Indonesia tak mau menyia-nyiakan peluang itu.

“Dari karakter remaja putri yang kami ketahui, kemudian kami menuangkannya menjadi ide komunikasi iklan dan aktivitas-aktivitas lain yang menarik. Contohnya, Pond’s Dream Access,” kata Fiona. Pond’s Dream Access (PDA) yaitu previledge card khusus untuk remaja putri di Bandung, Jawa Barat, yang penuh percaya diri, memiliki pergaulan luas, open-minded, gaya, dan siap untuk eksis. Berdasarkan consumer insight yang digali Unilever Indonesia, ternyata menunjukkan eksistensi diri bagi remaja putri di kota Bandung amat penting. Mereka menyatakan dirinya sosok yang penuh rasa percaya diri, utamanya akan kecantikan yang dimiliki. Mereka juga menikmati kecantikannya tersebut dan berusaha untuk tampil beda agar eksistensinya diakui oleh lingkungan sekitarnya.

Program PDA yang diluncurkan pada akhir Juli 2007 ini direncanakan berlangsung satu tahun dengan meluncurkan tiga edisi kartu PDA, yaitu Pink PDA, Green PDA, dan Gold PDA. Pink PDA diperkenalkan sebagai kartu edisi perdana dan pada catur wulan kedua diganti dengan Green PDA, selanjutnya pada catur wulan ketiga diganti menjadi Gold PDA. Pada pertengahan tahun 2008, akan diumumkan siapa yang berhak mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan mimpi dan tampil menunjukkan eksistensinya. Para remaja putri pemegang kartu PDA dapat menikmati berbagai diskon harga di merchant-merchant terkemuka, seperti boutique dan distro, kafe, salon, studio foto, atau karaoke. Di akhir ajang tersebut, bagi remaja putri terpilih yang memiliki ketiga kartu PDA akan memperoleh kesempatan mengikuti kelas eksklusif. Di kelas tersebut mereka akan diajarkan menjadi penyanyi, model, atau presenter profesional.

Dari masing-masing kelas akan dipilih satu pemenang. Pemenang itu akan mendapatkan kesempatan menjalani impiannya, umpamanya menjadi cover girl majalah, berduet dengan penyanyi terkenal, atau menjadi announcer radio. Mereka juga berkesempatan memenangkan paket liburan impian ke Phuket, Thailand. Dan bukan cuma itu. In-store activation dan school to school & mall road show (Pond’s White Class & Pond’s Beautylogy) merupakan langkah-langkah lain yang dilakukan Unilever Indonesia untuk lebih mendekatkan merek Pond’s kepada target market-nya. Penyelenggaraannya dibantu oleh para activation agency dengan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk reaching awareness pada target market tersebut. Cerita cinta (romance) adalah topik yang sangat relevan terhadap kehidupan remaja. Karena itu, apabila diperhatikan secara saksama, ujar Fiona, di iklan-iklan Pond’s ada sisipan pesan emosional yang berhubungan dengan romantika atau cinta agar menjadi lebih relevan terhadap audience-nya.

Dari sisi penyebaran produk, tim sales dan distribusi Unilever Indonesia juga telah berhasil menempatkan Pond’s White Beauty mulai dari pasar modern (hipermarket, supermarket, minimarket) hingga general trade (toko kosmetika, toko kelontong). Sehingga, harganya pun mempunyai range yang pas terhadap setiap income level (mass maupun semi-premium). Oleh sebab itu, selain Pond’s White Beauty, ada pula Pond’s Flawless White dan Pond’s Age Miracle untuk wanita yang lebih tua. 

Yang pasti, dengan langkah-langkah seperti itu, awareness dan penjualan Pond’s diketahui cukup menggembirakan. Sayangnya, Fiona menolak menyebutkan seberapa besar angka yang membuat Unilever gembira. Ia hanya menjawab, “Hasilnya cukup baik dan penjualan kami selalu tumbuh setiap tahun. Kunci sukses kami adalah selalu berpicu kembali kepada kebutuhan konsumen, mengenal konsumen, dan up-to-date dengan cara-cara baru menggapai konsumen”.

Untuk diketahui, Unilever Indonesia beroperasi sejak tahun 1933 dan telah tumbuh menjadi perusahaan penyedia consumer products dengan puluhan merek, salah satunya Pond’s. Pada tahun 2006, perusahaan ini berhasil meraih pertumbuhan laba bersih sebesar 19% atau menjadi Rp 1,7 triliun. Sementara itu, penjualannya tumbuh sebesar 13,4% menjadi Rp 11,3 triliun. Pertumbuhan itu semakin mengukuhkan kekuatan Unilever Indonesia sebagai market leader di consumer product.

Jika anak Anda masih tergolong berusia remaja, kira-kira apa, ya, pertimbangan utamanya di dalam membeli produk kosmetika? Tentu saja, di usia yang masih muda, mereka belum menunjukkan loyalitas terhadap produk tertentu. Karena itu, daya tarik kemasan sangat menentukan.

Itulah yang menjadi alasan mengapa Martha Tilaar mengemas produk Belia dengan ikon remaja disertai serangkaian cerita. Menurut Inna Christyanti, Marketing Manager PT Martina Berto, Martha Tilaar Group, kemasan merupakan hal penting bagi produk kosmetika remaja karena akan mempengaruhi minat target pasar untuk membeli. “Anak-anak remaja itu, kan, justru melihat kemasannya dulu. Kalau kemasannya lucu, mereka akan membeli,” ujarnya. Karena itu, Martha Tilaar kemudian menempelkan gambar-gambar ikon remaja di dua jenis produk merek Belia, yaitu Splash Cologne dan Spa Mist Cologne. Untuk Splash Cologne, ada enam varian produk dengan enam ikon berbeda. Keenam ikon tersebut diurutkan seperti ini: Sweet Love, Funky Flirt, Hanging Out, Missing You, Hote Date, dan Burning Love.

Untuk Spa Mist Cologne, Belia yang berbentuk long lasting cologne spray, hanya ada empat varian produk dengan ikon sebagai berikut: Party Babe, Fashion Freak, Music Lover, dan Movie Mania. Dengan demikian, anak-anak baru “gede” diarahkan untuk bisa merangkai sebuah cerita berdasarkan ikon-ikon itu. Misalnya begini: “Buat kamu si Movie Mania yang ga’ pernah ketinggalan film terbaru bareng temen-temen kamu waktu Hanging Out, dan tentunya sambil cari gebetan baru alias Funky Flirt!”

Atau, ada lagi cerita yang bisa disusun seperti ini: “Inspirasi buat kamu si Music Lover yang pengen ngasih lagu ciptaan kamu sambil nyatain Missing You dengan Sweet Love yang kamu rasain ke si dia selama ini!”, dan lain sebagainya. Sungguh menarik, bukan? Begitulah cara Martha Tilaar mencuri hati para remaja. Tidak berbeda jauh dengan Martha Tilaar, KinoCare Era Kosmetindo menggarap pasar Eskulin juga dengan iming-iming ikon remaja. Kino memilih melakukan co-branding dengan Disney, penyedia tokoh-tokoh kartun yang amat digemari anak-anak. Langkah Kino ini disebabkan karena tuntutan tren dunia remaja belakangan ini. Bisa jadi, para remaja membeli produk Eskulin karena nge-fun dengan tokoh-tokoh kartun Disney yang terpampang di kemasan Eskulin Cinderela atau Eskulin Mulan.

Sayangnya, tingkat loyalitas target pasar tersebut sangat rendah. Sehingga, produsen dituntut untuk pandai-pandai membaca tren. “Setiap tren paling lama hanya berkisar selama tiga tahun saja. Bahkan, sekarang sudah semakin cepat, bisa jadi hanya dua tahun saja,” terang Inna menjelaskan. “Kalau bisa malah satu tahun ganti kemasan, karena itu tuntutan pasar,” tambah Benny Kurniawan, GM Sales & Marketing PT KinoCare Era Kosmetindo. Yang menarik adalah cara Kino menggabungkan antara kebutuhan toiletris dengan dunia anak. Perpaduan itu diterapkan di produk Eskulin Kids sejak tahun 2004. “Maksudnya agar anak-anak bisa melakukan kewajibannya, seperti mandi dan sebagainya, dengan fun,” jelas Benny. Setidaknya ada 50 SKU Eskulin Kids yang diproduksi Kino, yang terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: shampoo, cologne, dan talcum.

Strategi yang digunakan Kino terhadap produk yang disasarkan untuk anak-anak berusia 5-10 tahun ini, antara lain; pertama, tingkat kesukaan konsumen. Untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen, produsen harus mampu memprediksi, melakukan riset pasar, observasi, dan menggunakan intuisi.

Kedua, produk tersebut mesti aplikatif terhadap konsumen anak-anak. Maksudnya, gampang digenggam, jangan sampai melukai, aman, dan nyaman. Ketiga, faktor manufacturing based atau kemampuan pabrik di dalam memproduksi produk tersebut. Seperti, kemampuan membuat model kemasan ataupun membuat gambar-gambar tokoh Disney.

“Di Eskulin Kids, selain gambar-gambar tokoh Disney, pemilihan warna juga tak bisa sembarangan. Anak-anak itu lebih suka warna-warna yang cenderung tidak matching, seperti hitam dipadukan dengan merah atau orange dan sebagainya,” tutur pria asal Jawa Tengah ini. Hal itu dibenarkan oleh Inna. Ia mengatakan bahwa anak-anak dan remaja lebih suka warna-warna yang cerah. Agar lebih mudah diterima pasar, Eskulin Kids dikomunikasikan dengan membawa anak-anak ke aktivitasnya setiap hari dan membawa aktivitas setiap hari ke dunia anak-anak. Hasilnya, tegas Benny, anak-anak akan merasa senang menggunakan produk-produk Eskulin Kids.

Namun, dengan mencantumkan tokoh-tokoh Disney ke dalam kemasan Eskulin dan Eskulin Kids, Benny mengaku, lebih banyak diarahkan untuk mempertahankan tingkat penjualan. Sebab, jika tidak menggunakan tokoh-tokoh Disney, kemungkinan besar jumlah penjualannya akan menurun. “Jadi, tidak menaikkan tetapi kalau tidak memajang tokoh-tokoh Disney tersebut kecenderungannya akan menurun.”

Sejak diluncurkan pada tahun 1992 pun Belia juga sudah mengalami evolusi kemasan. Alasan yang dikemukakan Inna juga tidak berbeda, “Target pasar cenderung cepat bosan. Sehingga, produsen dituntut untuk terus mengikuti tren agar penjualannya diterima oleh mereka dan tidak mengalami penurunan.” Walau keduanya sama-sama menyatakan mengubah kemasan sesungguhnya tidak murah.

“Untuk mendesain ulang kemasan saja sudah memerlukan biaya sekitar 10% dari jumlah penjualan. Sedangkan biaya yang lebih mahal lagi berada di alokasi investasi baru yang besarnya lebih dari 10%,” ungkap Benny. Karena itu, produsen harus mengetahui keinginan konsumen, dan akurat di dalam mengkalkulasi target, strategi distribusi, serta kapasitas produksi.

Saat ini, dengan kemasan-kemasan yang lebih mengedepankan nuansa cerita remaja, Belia mampu terserap pasar hingga lebih dari 3 juta botol per tahun. Sedangkan penjualan Eskulin dan Eskulin Kids per tahun mencapai 250.000 botol. Merek-merek tersebut juga sama-sama diekspor ke mancanegara, terutama ke negara-negara ASEAN.

Faktor ketidakpastian dan regulasi di Indonesia memang tidak bisa disepelekan. Para pemain obat diare pernah merasakan pahitnya hal itu. Beberapa tahun silam pemerintah pernah melarang mereka beriklan di televisi. Akibatnya, Diapet—yang masuk kategori jamu, bukan obat—dengan leluasa beriklan sendirian. Merek ini kemudian menuai sukses dan menjadi market leader.

Masih banyak contoh perusahaan yang untung besar karena faktor ketidakpastian (baca: lucky). Dalam 20 tahun terakhir, faktor ketidakpastian ini terus meningkat. Namun perlu dingat, di tengah ketidakpastian itu tentunya ada hal-hal yang bisa dipersiapkan oleh para marketer untuk mendapatkan profit yang maksimal.

Menurut Handi Irawan D, sebanyak 55-60% profit berasal dari karena adanya persiapan dalam strategi perusahaan, sedangkan 40-45% lainnya berasal dari lingkungan eksternal yang penuh dengan ketidakpastian. “Kita tidak bisa mengontrol faktor-faktor eksternal seperti inflasi, politik, dan perkembangan teknologi. Tapi kita bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menghadapinya,” kata Chairman Frontier Consulting Group ini dalam Marketing Conference awal November lalu. Dengan kata lain, ketidakpastian ini bisa di-manage. Pertama dengan mempersiapkan mental (preparing mind). Kemudian dengan menganalisis tren-tren yang berkembang. Sebab, ada tren-tren yang sudah pasti akan terjadi seperti perkembangan internet dan mobile revolution.

Pertumbuhan internet user memang sungguh luar biasa. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2000, pengguna internet di Indonesia baru sekitar 2 juta orang. Pada tahun 2007, jumlahnya membengkak hingga 20 kali lipat, yaitu mencapai 20 juta orang. Jadi, sebagai marketer kita mesti mengetahui apa yang sedang menjadi tren saat ini dan bagaimana kira-kira dampaknya selama beberapa tahun kedepan. Dari 10 karakter unik konsumen Indonesia (yang pernah dibahas dalam edisi khusus Majalah MARKETING), kita juga dapat menganalisis karakter mana yang trennya bakal menguat dan mana trennya justru menurun dalam 10 tahun ke depan. 

Karakter konsumen Indonesia yang suka berkumpul, getol pada merek luar negeri, religius, dan mementingkan gengsi tampak bakal tambah menguat. Sementara karakter konsumen kita yang berpikir jangka pendek, tidak terencana, gagap teknologi, berorientasi pada konteks, kuat di subkultur, dan kurang peduli lingkungan akan berkurang di masa mendatang. Memahami tren karakter konsumen ini sungguh penting. Bayangkan saja, penerimaan terbesar perusahaan seluler kini bukanlah berasal dari voice, melainkan dari SMS dan ring back tone. Pasalnya, konsumen kita menyukai intimacy, serta hal yang bisa meningkatkan image dan yang bersifat fun.

“Bukti lainnya, outlet Time Zone di seluruh Indonesia kini mencapai 120 buah. Padahal, di Singapura jumlahnya tak lebih dari 6 buah,” imbuh Handi. Tidak heran bila pemain baru seperti KidZania pun ikut tergiur. Mereka rela menanamkan investasi sebesar US$ 15 juta untuk membangun satu outletnya di Jakarta. Itu dari sisi perilaku konsumen. Dari sisi eksternal lainnya, Handi menuturkan adanya 10 tren yang perlu diwaspadai oleh para marketer. Tren-tren itu antara lain: ledakan informasi, perkembangan internet, mobile revolution, meningkatnya kekuatan ritel modern, kebangkitan negara China, matinya merek lokal, ketidakmerataan distribusi pendapatan, bertambahnya kaum ibu yang  bekerja, dan meningkatnya pengeluaran untuk anak.

Berkaitan dengan itu, perusahaan harus punya kemampuan untuk memonitor lebih cepat kondisi makro ekonomi, politik, teknologi, pelanggan, dan kompetitor. Ia mencontohkan perusahaan rokok Sampoerna yang bisa memonitor berapa penjualan mereka hari ini secara langsung. 

Terakhir, untuk menjawab tren-tren tersebut sekaligus menciptakan mega performance, Handi menawarkan tiga strategi yang bisa dipakai oleh para marketer. Pertama, strategi Customer Relationship Management (CRM). Kedua, strategi hybrid yang membidik dua segmen sekaligus. Terakhir adalah strategi Purple Ocean.

Strategi CRM masih tetap menjanjikan. Dengan demikian, para marketer jangan hanya mengejar sukses dari sisi pangsa pasar, tetapi juga harus bagus dalam hal loyalitas dan retensi pelanggan. Sebab, bila hubungan dengan pelanggan bagus, apa pun yang dijual akan berhasil. Namun, strategi CRM ini tidak bisa short time karena hasilnya baru akan terlihat 2-3 tahun kemudian. Garuda Indonesia boleh bersyukur karena memiliki program frequent flyer. Dengan adanya program ini, mereka bisa bertahan dari gempuran para pesaing dari kelompok low fare airlines.

Strategi lainnya adalah hybrid. Dalam strategi ini, marketer bisa membidik konsumen dari 2 segmen: online maupun offline. Inilah yang dilakukan oleh Bhinneka.com, situs belanja komputer. Uniknya, jumlah pelanggan Bhinneka yang membayar lewat online payment sedikit sekali. Mayoritas membeli lewat telepon setelah melihat-lihat barang di situs tersebut. Jadi, situs ini seperti brosur hidup. Konsumen melakukan riset secara online di internet, lalu membeli produk elektronik yang dipilihnya dengan memesan lewat telepon.

Sementara strategi Purple Ocean dikembangkannya dari strategi Blue Ocean. Bila Blue Ocean menciptakan sesuatu yang baru serta membuat pesaing menjadi tidak relevan; maka Red Ocean adalah kebalikannya. Namun, masalahnya, di Indonesia strategi ini menghadapi sejumlah kendala, yaitu: sumber daya yang terbatas, kurangnya komitmen dari top management, perlindungan hak paten yang masih lemah, dan biaya edukasi pasar yang sangat tinggi. 

Oleh karena itu, Handi menawarkan strategi Purple Ocean, yang merupakan kombinasi dari kedua strategi tadi (“red” dan “blue”). Strategi ini bisa dijalankan dengan mengajak kompetitor untuk sama-sama mengedukasi market yang baru. Banyak merek pionir yang gagal, seperti Tara Nasiku, lantaran biaya edukasinya sangat tinggi. Nah, dengan mengajak kompetitor bersama-sama mengedukasi pasar, biaya edukasi dan komunikasi jadi lebih rendah dan risiko kegagalan pun bisa diperkecil.

Strategi Purple Ocean ini juga bisa ditempuh dengan cara membawa konsep produk dari luar negeri ke pasar Indonesia. Hal ini sukses dilakukan oleh BreadTalk. Cara lainya adalah dengan menunggu saat yang tepat untuk “second bite”. Nah, untuk tahun depan strategi manakah yang Anda pilih?

Tahun ini para marketer berangkat dalam kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dari awal tahun sebelumnya. Awal 2006 marketer dihadapkan pada kecemasan akan turunnya pembelian akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM secara drastis di penghujung 2005. Daya beli masyarakat yang turun berdampak pada penurunan konsumsi beberapa produk. Tapi pada awal 2007 ekonomi relatif cukup berjalan baik. Selama setahun ini bursa saham juga mengalami kenaikan indeks yang menggembirakan dan rupiah cukup stabil. Tingkat suku bunga yang cukup rendah menggairahkan beberapa sektor seperti properti dan kredit kendaraan.

Iklim yang demikian memang menyehatkan untuk persaingan, sekalipun itu berarti para marketer juga harus berkerja keras di tahun ini untuk mempertahankan atau merebut market share yang ada. Iklim persaingan tinggi, mau tidak mau, membuat marketer harus semakin kreatif berinovasi. Pada kondisi yang kurang stabil, pemain-pemain kecil lebih leluasa bergerak dibanding pemain raksasa. Sebaliknya, kondisi yang stabil mendorong para pemain raksasa dan market leader bergerak lebih aktif dan tentunya menyulitkan pemain-pemain di bawahnya.

Itulah sebabnya, tahun 2007 adalah tahun ekspansi. Apalagi beberapa emerging market semakin tumbuh. Contohnya di industri kartu seluler yang mengalami percepatan pertumbuhan sampai lebih dari 20%, industri ritel modern yang tumbuh 17% dan pertumbuhan bank-bank Syariah. Beberapa market baru memang muncul karena dorongan para pemain yang ikut memperbesar pasar tersebut. Misalnya pasar 3G, internet broadband, dan minuman isotonik. Juga beberapa pasar untuk produk-produk yang berbau kesehatan mulai melebar.

Dengan tingkat ekspansi yang tinggi, belanja iklan tahun ini diperkirakan juga meningkat. Menurut data Nielsen, sampai bulan Oktober angkanya sudah mencapai 35,7 triliun (Desember 2006 sebesar 30 triliun) sehingga diperkirakan pertumbuhan belanja iklan di tahun 2007 bisa mencapai di atas 20 persen. Sayangnya, pertumbuhan belanja iklan di media konvensional dibayang-bayangi oleh masalah efektivitas iklan di media-media seperti televisi. Harga beriklan yang mahal di televisi justru dibarengi oleh penurunan rating. Contohnya pada saat acara Empat Mata, rating yang tinggi bisa melorot justru pada saat iklan berlangsung. Akibatnya, para marketer harus semakin cerdik beriklan. Pada kondisi demikian, media alternatif seperti PR, even, sales promotion, word of mouth, guerilla marketing atau product placement menjadi pilihan yang lebih disukai. Pada kasus acara Empat Mata, ketimbang memasang spot iklan pada acara tersebut, akan lebih efektif jika merek menempel pada saat acara. Ini yang membuat pemirsa televisi lama-lama sudah semakin biasa jika talk show semacam itu sudah mulai sarat dengan pesan sponsor.

Mau tidak mau, attachement merek pada dunia hiburan adalah pilihan yang semakin menarik di tahun ini. Hal ini sejalan dengan arus co-branding yang harus mulai dijalankan oleh para pemasar. Kerja sama dan aliansi merek seperti halnya co-branding memang menjadi kebutuhan para marketer untuk sama-sama menggarap target pasar sejenis. Musik dan film adalah industri yang sesuai untuk menjalankan co-branding, karena keduanya bisa lebih mendekatkan merek pada pasar yang ada. Di tahun mendatang kecenderungan pemasar untuk mempergunakan co-branding seperti ini mulai banyak dilakukan. Sejalan dengan pertumbuhan industri musik dan film di Indonesia, marketer pun di tahun mendatang banyak memanfaatkannya. Sedangkan attachement pada dunia sport di tahun 2008 akan sedikit lebih gebyar dengan adanya Olympiade Beijing dan Piala Eropa 2008. Namun dari pengalaman sebelumnya, semuanya tergantung pihak televisi swasta sebagai pembeli program acara. Jika mereka tidak mampu “membesarkan” even ini, maka dampaknya bagi marketer juga kurang terasa.

Below The Line

Memang aktivitas below the line (BTL) adalah tren pemasaran yang semakin diminati di tahun mendatang, seperti halnya pilihan pada media-media yang lebih segmented. Selain dukungan dunia entertainment, BTL didukung oleh kekuatan ritel modern seperti mal, hipermarket, supermarket, dan mini market. BTL juga berkembang oleh tingkat mobilitas konsumen yang semakin tinggi. Akibatnya, komunikasi dengan konsumen sudah tidak bisa lagi dilakukan lewat media konvensional. Jalan raya, perkantoran, dan mal adalah beberapa medium yang dijadikan sarana bertemu dengan konsumen. Mobilitas konsumen yang semakin tinggi memang memberi dampak yang luar biasa pada perubahan perilaku konsumen. Paling tidak, ini merupakan kabar gembira bagi produk-produk yang sejalan dengan unsur convenience (kenyamanan) yang menjadi tuntutan para konsumen mobile ini. Handphone sudah pasti termasuk kelompok ini, selain kartu ATM, MP3 Player, TV mobil, Notebook, dan lain-lain. Oleh karena itu, handphone masih saja menjadi produk yang diserbu oleh konsumen di tahun mendatang. Belum ada kata “declining” untuk kategori produk ini. Itulah sebabnya, masih ada kesempatan bagi merek-merek lain untuk mencuri market share ditengah-tengah dominasi Nokia dan Sony Ericsson.

Demikian pula halnya dengan industri pendukung seperti kartu seluler, persaingan harga juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Setelah Indosat mengusung strategi “0 rupiah”, adakah pemain lain memakai strategi harga yang lebih rendah dari itu? Kami rasa, tarif masih menjadi senjata bersaing di tahun 2008. Persaingan yang memanas di sektor ini memang memacu kreativitas yang tinggi untuk sekadar mengutak-atik harga. Price illusion seperti dilakukan Indosat dengan “0 rupiah” (yang tak lain juga permainan diskon) akan dipergunakan, sebelum pemerintah campur tangan dalam urusan perang tarif yang semakin seru (dan memprihatinkan?).

Diskon

Apakah strategi diskon masih menarik di tahun mendatang? Pada kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, diskon sepertinya masih menjadi pilihan menarik untuk dijalankan. Hanya saja “kemasan” diskon ini harus dibuat sedemikian bagus karena besaran diskon sering kali bukan hal yang menarik lagi. Contohnya strategi “buy one get two” untuk menggantikan istilah 50 persen atau cash back (pengembalian uang) jika Anda membeli sesuatu. Di dunia kartu kredit, model perang tarif untuk tujuan akuisisi sebenarnya juga terjadi, sekalipun tidak sehebat di kartu seluler. Mulai meningginya Non Performing Loan (kredit bermasalah) di sektor kredit konsumsi akan membuat pemerintah semakin memperketat kredit konsumsi, khususnya kartu kredit. Padahal kartu kredit adalah salah satu industri yang memiliki potensi pasar cukup besar. Bank yang cukup lama “tidur” di produk kartu kredit seperti Danamon pun mulai menggeliat. Demikian halnya dengan BRI yang sebelumnya tidak tertarik menggarap produk ini. Oleh karena itu, upaya “jemput bola” juga dilakukan seperti direct selling dan kegiatan BTL lainnya. Terakhir bank UOB pun sudah mulai agresif masuk ke produk ini. Senjata apa lagi yang bisa ditawarkan lewat direct selling selain proses cepat, bebas iuran tahunan, bunga kecil, dan banyak memberikan diskon?

Pasar Premium

Pada kondisi persaingan yang bergerak ekspansif, misalnya di kartu kredit dan seluler, perang harga memang menjadi senjata, khususnya oleh para pemain menengah-bawah. Proses akuisisi yang dilakukan sering kali membuat kita terheran-heran, apakah cost of acquisition-nya (biaya mengakuisisi) lebih besar dibandingkan customer value yang didapat (bahkan untuk dua tahun mendatang)? Oleh karena itu, untuk mengimbanginya, peran produk premium diperlukan. Kelas premium mendukung margin dari kelas bawah, high end memberi subsidi sementara untuk low-end. Mengapa demikian? Prinsip Pareto (80 persen pendapatan umumnya diperoleh dari 20 persen pelanggan) berlaku. Apalagi pasar premium sudah terbukti tahan terhadap krisis. Personal banking adalah pilihan bank untuk mempertahankan pelanggan premiumnya. Begitu pula kartu seluler, mereka punya strategi khusus untuk memperlakukan pelanggan premium.

Pasar premium agaknya masih menjadi incaran para pemain elektronik di tahun depan. Margin yang ketat di produk low-end, membuat para pemain elektronik juga berpikir untuk menggantungkan diri pada produk high-end. Salah satu produk yang diperkirakan booming adalah TV Plasma. Tahun depan produk ini statusnya masih premium sebelum pada akhirnya—seperti halnya produk elektronik—akan muncul banyak produk low-end. Untuk contoh kasus ini, kita bisa lihat pada produk notebook yang semakin lama semakin banyak mengeluarkan varian low-end. Pasar notebook semester dua tahun 2007 ini bisa tumbuh hampir 50% dibandingkan tahun lalu karena keluarnya banyak produk low-end itu.

Otomotif Masih Hati-hati

Bagaimana dengan sektor otomotif? Tahun depan target penjualan mobil diperkirakan hampir mencapai 500.000 unit, hanya naik sekitar 10% dari tahun ini sekitar 450.000. Melonjaknya harga minyak dunia di akhir tahun 2007 menyisipkan ketakutan akan kenaikan harga BBM lagi yang bisa menekan penjualan otomotif. Oleh karena itu, pelaku di industri ini mengambil langkah yang moderat. Demikian pula dengan industri sepeda motor yang diperkirakan juga tumbuh sekitar 10%. Prediksi harga BBM menjadi pengeremnya, sekalipun perkembangan kredit konsumsi dan mengejar target sebelum pemilu menjadi pendorongnya.

Industri sepeda motor masih menjadi primadona di tahun mendatang, meskipun jumlah sepeda motor sepertinya sudah begitu banyak. Mobilitas yang makin tinggi dan pertumbuhan jalan raya yang semakin menurun membuat transportasi dengan sepeda motor relatif murah. Apalagi persaingan di industri ini juga membuat harga kendaraan ini semakin murah. Motik (motor otomatik) akan menjadi primadona di sektor ini. Diperkirakan motik akan tumbuh sekitar 20-30% tahun mendatang.

Tantangan baru bagi pemain otomotif di masa mendatang adalah polusi dan kemacetan di kota besar yang akan semakin menjadi perhatian pemerintah. Hal ini bisa membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mempengaruhi industri ini. Oleh karena itu, pemain dalam industri otomotif juga mulai kreatif dalam memanfaatkan isu-isu seperti seperti lingkungan atau kenyamanan dalam berkendara di tengah kemacetan. Mobil-mobil kompak dengan ukuran lebih kecil, namun bisa menampung banyak orang, juga masih menjadi pilihan konsumen.

Isu Lingkungan dan Kesehatan

Adanya konferensi pemanasan global di Bali pada akhir tahun ini, setidaknya memang bisa menarik isu lingkungan sebagai masalah nasional. Sekalipun, di mata konsumen, memilih produk karena ramah lingkungan sepertinya masih jauh api dari panggang. Namun, hal ini bisa dipercepat jika ada dorongan dari industri untuk bersama-sama concern terhadap isu lingkungan. Dengan demikian, konsumen bisa

didorong ke arah sana. Masalahnya, pelaku di dalam industrinya juga banyak yang belum siap mengangkat isu lingkungan dan agaknya peraturan pemerintahlah akhirnya yang bisa menggerakkan industri. Ini mirip dengan kasus Corporate Social Responsibility (CSR), di mana pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan di bidang itu untuk mendorong perusahaan lebih memperhatikan komunitas di luar lingkungan perusahaan.

Memang, dibandingkan isu lingkungan, isu kesehatan kelihatannya lebih dahulu mengemuka di tahun ini. Kasus formalin dan bahan buatan membuat konsumen berhati-hati untuk membeli produk makanan yang bukan berasal dari makanan bermerek. Tidak mengherankan jika di tahun 2008 isu kesehatan akan menjadi salah satu unique selling proposition yang dipergunakan oleh marketer. Terutama hal ini terjadi pada produk-produk konsumsi segmen menengah ke atas. Berkembangnya banyak penyakit baru dalam satu dekade terakhir ini, membuat industri farmasi berkembang dan juga makanan kesehatan sebagai bentuk preventif. Penyakit kanker, sakit jantung, dan stroke bukan lagi menjadi “penyakit elite” dan keseimbangan gizi adalah gaya hidup yang akan berkembang di masa mendatang.

Untuk produk khusus untuk wanita, tren produk pelangsing tubuh akan semakin menguat. Mulai dari yang murah-meriah sampai yang harganya puluhan juta. Mulai dari yang butuh proses sampai yang bersifat instan. Bagaimanapun semaraknya isu kesehatan, perilaku masyarakat Indonesia yang “instant minded” masih akan terus ada. Kemampuan produk-produk kesehatan memberi jaminan dalam hal kecepatan memberikan manfaat tetap menjadi ukuran. Ini terjadi pula pada produk kosmetik. Krim pemutih yang bisa memutihkan dalam waktu singkat masih menjadi primadona di industri kosmetik.

Speed Nomor Satu

Dari berbagai kasus yang kita pelajari di tahun 2007 ini dan tren perilaku masyarakat dapat disimpulkan bahwa kecepatan (speed) memegang peranan kunci dalam mengembangkan pasar di masa mendatang. Kecepatan membaca tren pasar, kecepatan mengeluarkan produk yang memenuhi tren pasar, kecepatan bereaksi terhadap kompetitor, dan bahkan produk yang dihasilkan pun harus bisa membantu konsumen dalam hal kecepatan. Dekatnya even Pemilu 2009 juga memacu para marketer untuk bergerak cepat karena diperkirakan pemilu punya dampak terhadap ekonomi.

Kecepatan harus mengemuka dalam pelayanan, di mana proses pelayanan harus bisa dilakukan dalam waktu yang lebih terbatas. Mau tidak mau, teknologi harus semakin diikutsertakan. E-mail dan SMS adalah communication channel dengan pelanggan yang semakin penting, selain layanan call center. Itulah sebabnya Customer Relationship Management (CRM) akan menjadi tools yang harus dipersiapkan secara matang di tahun mendatang, khususnya para pelaku di industri jasa. CRM membantu marketer untuk bisa lebih memahami pelanggan, sehingga dalam memberikan pelayanan juga semakin cepat dan tepat. Untuk itu, CRM yang dikembangkan harus juga dekat dengan unsur teknologi, karena teknologi yang bisa mempercepat dan menjamin ketepatan pelayanan.

Sebagai catatan akhir tahun, Majalah MARKETING selama tahun 2007 ini boleh bersyukur karena ada banyak indikator yang semakin memperkuat posisi kami sebagai leader di majalah bisnis khusus pemasaran. Dari pengamatan kami, MARKETING sudah menjadi alat ukur bagi perusahaan dalam mengukur kinerja di bidang pemasaran. Penghargaan seperti SQ Award, Call Center Award, Top Brand Award dan Marketing Award menjadi penghargaan yang ditunggu-tunggu oleh insan pemasaran.

Tahun ini kami juga berhasil mengeluarkan dua edisi khusus dan semakin mempertebal isi majalah. Tidak lain itu merupakan upaya kami untuk bisa memberi kepuasan kepada pembaca, khususnya dalam kecepatan dan kedalaman memperoleh tren-tren terbaru. Beberapa topik yang kami angkat tahun ini antara lain adalah masalah efektivitas promosi, menghapus dosa-dosa merek, perang harga, ritel sampai masalah brand social responsibility. Topik-topik ini kami rancang untuk senantiasa selalu memberi kesegaran dan inspirasi baru bagi para marketer di Indonesia.

Di luar majalah, aktivitas yang banyak kami lakukan melalui unit-unit bisnis kami terasa semakin mengakomodasi kebutuhan para marketer. Seperti SurveyOne (marketing research), Credo (media maker for CRM), EO-One (event organizer), Marketing Center for Leadership (edukasi) dan juga marketing online. Aktivitas off-print kami pun semakin produktif dengan beberapa seminar inspiratif seperti seminar “Loyalty for Profit” sampai konferensi akbar “Mega Maxi Marketing”.

Itu semua tentunya tak lepas dari dukungan semua pihak, baik para pembaca, pengiklan, klien dan khususnya teman-teman marketer yang setia untuk bergabung dalam Marketing Community dan milis kami. Mudah-mudahan tahun mendatang kami lebih banyak lagi memberikan pelayanan bagi sahabat-sahabat kami ini. Selamat menyongsong tahun 2008!
diambil dari www.marketing.co.id

Corporate Social Responsibility (CSR) seharusnya menjadi kesadaran yang tumbuh dari tiap perusahaan. Bentuknya bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan situasi, lokasi, dan jenis perusahaan tersebut. Bila sudah begitu, CSR sebenarnya tidak atau belum menjadi sesuatu yang harus diformalkan dalam undang-undang. 

“Pemerintah lebih baik menjadi motivator supaya semakin banyak perusahaan yang mau melakukan CSR. Kalau diatur, kecenderungan yang kemungkinan besar terjadi adalah CSR cuma berupa bagi-bagi hadiah atau sumbangan dalam bentuk tunai. Ini tidak mendidik masyarakat, tapi justru menjerumuskan,” kata Christian P.B. Halim President Director Pulau Umang Resort & Spa.  

Christian tidak sekadar asal bicara, ia sudah membuktikan dengan tindakan. Pulau Umang yang justru “hanya” merupakan perusahaan jasa pariwisata sejak awal berdiri sudah memikirkan bagaimana melakukan suatu program untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

Terlebih karena berada di wilayah Ujung Kulon, Pulau Umang menyediakan sebuah resort dengan pemandangan alam yang menawan untuk berekreasi dan bersantai. “Keberadaan Pulau Umang yang berdampingan dengan Cagar Alam Ujung Kulon merupakan suatu ‘berkat’ luar biasa. Jadi, kami memiliki tekad untuk tetap melestarikan kawasan ini dengan baik,” jelasnya. Niat untuk melakukan CSR ini bahkan tidak surut meski kondisi bisnis wisata yang ada di lepas pantai terpuruk sejak bencana Tsunami Aceh tahun 2004. Pulau Umang tetap menjalankan program yang sudah dicanangkan. Dorongan melakukan CSR dalam kondisi sulit pun tidak membuat mereka menjadikan program ini sebagai marketing tool-nya. Pembicaraan CSR justru terjadi ketika urusan bisnis sudah selesai.

Meski begitu, impaknya pada volume hunian tetap ada. Berdasarkan pengalaman selama ini, Christian menjelaskan, biasanya orang akan lebih appreciate bila berwisata di tempat yang peduli dengan lingkungan sekitar. Karena akan lebih aman dan nyaman. “Tapi, bisa dipastikan bahwa dalam promosi Pulau Umang tidak ada poin yang menyebutkan kami memiliki program CSR.”

Apa saja program CSR Pulau Umang yang sudah bergulir sejak berdiri tahun 2004? Di antaranya, memelopori sebuah program terpadu untuk wilayah tersebut, yang diberi nama Ujung Kulon Conservation Society (UCS).  Salah satu bentuk program ini adalah sosialisasi pentingnya menjaga kelestarian alam. Kemudian, yang patut dicontoh oleh pengelola wisata alam yang lain adalah program penanaman sejuta pohon. “Jadi, setiap tamu yang berwisata di Pulau Umang akan menerima satu pohon yang akan ditanam di wilayah itu,” tambahnya. Ia mengatakan, tujuan yang ingin dicapai di sini adalah mengajak orang untuk tidak hanya mengeksploitasi dan mengeksplorasi alam. Karena tanpa disadari tindakan yang membahayakan ekosistem akan membuat manusia terkena dampak negatif, seperti pemanasan global.

Lalu, ada pula Community Development Program untuk masyarakat desa Kampung Ciparahu, Kecamatan Sumur (tempat Pulau Umang berada). Program ini memfasilitasi pengadaan air bersih untuk desa-desa yang lokasinya terisolasi. “Di desa-desa yang terisolir, air bersih menjadi sesuatu yang mahal. Kalau pun ada, proses untuk mengalirkannya susah karena posisi sumber air yang rendah. Kondisi seperti ini menjadi perhatian kami,” terangnya.

Dalam menjalankan programnya, lanjut Christian, Pulau Umang tidak bertindak bak sinterklas yang turun dari kereta. Namun, melibatkan penduduk sekitar untuk terlibat aktif. Misalnya dengan merekrut sukarelawan yang berasal dari masyarakat setempat. Tugas sang sukarelawan adalah mengidentifikasi akar masalah dan mencari solusinya. “Sudah tentu, ada staf kami yang terlibat. Intinya, dilakukan secara gotong royong.” Supaya tepat sasaran, tepat tujuan, dan tepat solusinya, identifikasi masalah menjadi hal penting dalam melaksanakan CSR. Kemudian, program tersebut harus berkelanjutan. Dengan begitu, masyarakat tidak merasa ditinggalkan. Namun, ketika masyarakat sudah mandiri dan mentas, objek CSR harus diubah. Baik dengan bentuk program yang berbeda ataupun sasaran spesifik yang lain. 

Tidak bisa disangkal bahwa kucuran dana yang tepat bisa menjadi trigger ampuh pertumbuhan ekonomi masyarakat. Maka dari itu, Pulau Umang memposisikan sebagai motor penggerak dalam menyusun dana pembangunan bergulir untuk masyarakat. Wujudnya dengan membuat Program Tunas Mandiri. Salah satu kegiatan dalam program ini nantinya disebut Pinjaman Nurani. Kalau dikategorikan, pinjaman tersebut tidak bisa dimasukkan dalam bentuk pinjaman apa pun. Karena pinjaman ini tidak berbunga, tapi juga bukan syariah.

Orang yang mendapat pinjaman, jelas Christian, hanya wajib mengembalikan pinjaman pokok. Kalau bisa mendapatkan keuntungan dari pinjaman itu lalu mengembalikan sekian persennya, maka disebut sumbangan dan akan ditambahkan pada modal bergulir tersebut. “Artinya, kalau yang menyumbang semakin banyak, maka pinjaman yang diberikan ke orang lain akan semakin besar pula. Sumbangan tidak harus berbentuk uang, gabah pun bisa.”

Setelah menggulirkan Pinjaman Nurani, bukan berarti pekerjaan selesai. Tugas penting justru sedang menanti. Yaitu mengedukasi masyarakat bagaimana memanfaatkan uang tersebut supaya optimal. Ini dilakukan dengan menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan, dengan mendorong mereka untuk berusaha. Salah satu usaha yang akan dikembangkan adalah bisnis nasi bakar Tunas Mandiri yang akan diwaralabakan. 

“Jangan membuat masyarakat terbiasa menerima uang yang lama-lama akan merasa menjadi hak mereka sebagai penduduk sekitar atau orang tidak mampu. Akhirnya, kalau tidak diberi, demo atau minta bantuan,” paparnya. Bagaimana cara Pulau Umang membiayai program CSR tersebut? Christian menjelaskan bahwa mereka tidak sendirian, namun melibatkan banyak pihak. Baik dari pemerintah, tokoh nasional, hingga pengunjung resort. Di UCS, misalnya, ada beberapa tokoh yang membantu seperti Marzuki Usman dan Agum Gumelar. Kemudian, dana juga bisa didapat dari fund raising para wisatawan.

Lantas, apa kunci keberhasilan program CSR Pulau Umang? Menurutnya, ada beberapa hal pokok. Pertama, CSR adalah sebuah panggilan nurani dari pemilik perusahaan tersebut. Kedua, implementasi CSR harus dimulai dari sebuah proses identifikasi akar masalah, lalu dicari solusi yang melibatkan masyarakat. Kemudian, harus bersifat suistainable and responsible development program. “Terakhir, yang tidak kalah penting, adalah jangan sampai menimbulkan conflict of interest dengan bisnis yang ditekuni,” tegas Christian.
diambil dari ww.marketing.co.id

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »