Tahun ini para marketer berangkat dalam kondisi ekonomi yang relatif lebih baik dari awal tahun sebelumnya. Awal 2006 marketer dihadapkan pada kecemasan akan turunnya pembelian akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM secara drastis di penghujung 2005. Daya beli masyarakat yang turun berdampak pada penurunan konsumsi beberapa produk. Tapi pada awal 2007 ekonomi relatif cukup berjalan baik. Selama setahun ini bursa saham juga mengalami kenaikan indeks yang menggembirakan dan rupiah cukup stabil. Tingkat suku bunga yang cukup rendah menggairahkan beberapa sektor seperti properti dan kredit kendaraan.
Iklim yang demikian memang menyehatkan untuk persaingan, sekalipun itu berarti para marketer juga harus berkerja keras di tahun ini untuk mempertahankan atau merebut market share yang ada. Iklim persaingan tinggi, mau tidak mau, membuat marketer harus semakin kreatif berinovasi. Pada kondisi yang kurang stabil, pemain-pemain kecil lebih leluasa bergerak dibanding pemain raksasa. Sebaliknya, kondisi yang stabil mendorong para pemain raksasa dan market leader bergerak lebih aktif dan tentunya menyulitkan pemain-pemain di bawahnya.
Itulah sebabnya, tahun 2007 adalah tahun ekspansi. Apalagi beberapa emerging market semakin tumbuh. Contohnya di industri kartu seluler yang mengalami percepatan pertumbuhan sampai lebih dari 20%, industri ritel modern yang tumbuh 17% dan pertumbuhan bank-bank Syariah. Beberapa market baru memang muncul karena dorongan para pemain yang ikut memperbesar pasar tersebut. Misalnya pasar 3G, internet broadband, dan minuman isotonik. Juga beberapa pasar untuk produk-produk yang berbau kesehatan mulai melebar.
Dengan tingkat ekspansi yang tinggi, belanja iklan tahun ini diperkirakan juga meningkat. Menurut data Nielsen, sampai bulan Oktober angkanya sudah mencapai 35,7 triliun (Desember 2006 sebesar 30 triliun) sehingga diperkirakan pertumbuhan belanja iklan di tahun 2007 bisa mencapai di atas 20 persen. Sayangnya, pertumbuhan belanja iklan di media konvensional dibayang-bayangi oleh masalah efektivitas iklan di media-media seperti televisi. Harga beriklan yang mahal di televisi justru dibarengi oleh penurunan rating. Contohnya pada saat acara Empat Mata, rating yang tinggi bisa melorot justru pada saat iklan berlangsung. Akibatnya, para marketer harus semakin cerdik beriklan. Pada kondisi demikian, media alternatif seperti PR, even, sales promotion, word of mouth, guerilla marketing atau product placement menjadi pilihan yang lebih disukai. Pada kasus acara Empat Mata, ketimbang memasang spot iklan pada acara tersebut, akan lebih efektif jika merek menempel pada saat acara. Ini yang membuat pemirsa televisi lama-lama sudah semakin biasa jika talk show semacam itu sudah mulai sarat dengan pesan sponsor.
Mau tidak mau, attachement merek pada dunia hiburan adalah pilihan yang semakin menarik di tahun ini. Hal ini sejalan dengan arus co-branding yang harus mulai dijalankan oleh para pemasar. Kerja sama dan aliansi merek seperti halnya co-branding memang menjadi kebutuhan para marketer untuk sama-sama menggarap target pasar sejenis. Musik dan film adalah industri yang sesuai untuk menjalankan co-branding, karena keduanya bisa lebih mendekatkan merek pada pasar yang ada. Di tahun mendatang kecenderungan pemasar untuk mempergunakan co-branding seperti ini mulai banyak dilakukan. Sejalan dengan pertumbuhan industri musik dan film di Indonesia, marketer pun di tahun mendatang banyak memanfaatkannya. Sedangkan attachement pada dunia sport di tahun 2008 akan sedikit lebih gebyar dengan adanya Olympiade Beijing dan Piala Eropa 2008. Namun dari pengalaman sebelumnya, semuanya tergantung pihak televisi swasta sebagai pembeli program acara. Jika mereka tidak mampu “membesarkan” even ini, maka dampaknya bagi marketer juga kurang terasa.
Below The Line
Memang aktivitas below the line (BTL) adalah tren pemasaran yang semakin diminati di tahun mendatang, seperti halnya pilihan pada media-media yang lebih segmented. Selain dukungan dunia entertainment, BTL didukung oleh kekuatan ritel modern seperti mal, hipermarket, supermarket, dan mini market. BTL juga berkembang oleh tingkat mobilitas konsumen yang semakin tinggi. Akibatnya, komunikasi dengan konsumen sudah tidak bisa lagi dilakukan lewat media konvensional. Jalan raya, perkantoran, dan mal adalah beberapa medium yang dijadikan sarana bertemu dengan konsumen. Mobilitas konsumen yang semakin tinggi memang memberi dampak yang luar biasa pada perubahan perilaku konsumen. Paling tidak, ini merupakan kabar gembira bagi produk-produk yang sejalan dengan unsur convenience (kenyamanan) yang menjadi tuntutan para konsumen mobile ini. Handphone sudah pasti termasuk kelompok ini, selain kartu ATM, MP3 Player, TV mobil, Notebook, dan lain-lain. Oleh karena itu, handphone masih saja menjadi produk yang diserbu oleh konsumen di tahun mendatang. Belum ada kata “declining” untuk kategori produk ini. Itulah sebabnya, masih ada kesempatan bagi merek-merek lain untuk mencuri market share ditengah-tengah dominasi Nokia dan Sony Ericsson.
Demikian pula halnya dengan industri pendukung seperti kartu seluler, persaingan harga juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Setelah Indosat mengusung strategi “0 rupiah”, adakah pemain lain memakai strategi harga yang lebih rendah dari itu? Kami rasa, tarif masih menjadi senjata bersaing di tahun 2008. Persaingan yang memanas di sektor ini memang memacu kreativitas yang tinggi untuk sekadar mengutak-atik harga. Price illusion seperti dilakukan Indosat dengan “0 rupiah” (yang tak lain juga permainan diskon) akan dipergunakan, sebelum pemerintah campur tangan dalam urusan perang tarif yang semakin seru (dan memprihatinkan?).
Diskon
Apakah strategi diskon masih menarik di tahun mendatang? Pada kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, diskon sepertinya masih menjadi pilihan menarik untuk dijalankan. Hanya saja “kemasan” diskon ini harus dibuat sedemikian bagus karena besaran diskon sering kali bukan hal yang menarik lagi. Contohnya strategi “buy one get two” untuk menggantikan istilah 50 persen atau cash back (pengembalian uang) jika Anda membeli sesuatu. Di dunia kartu kredit, model perang tarif untuk tujuan akuisisi sebenarnya juga terjadi, sekalipun tidak sehebat di kartu seluler. Mulai meningginya Non Performing Loan (kredit bermasalah) di sektor kredit konsumsi akan membuat pemerintah semakin memperketat kredit konsumsi, khususnya kartu kredit. Padahal kartu kredit adalah salah satu industri yang memiliki potensi pasar cukup besar. Bank yang cukup lama “tidur” di produk kartu kredit seperti Danamon pun mulai menggeliat. Demikian halnya dengan BRI yang sebelumnya tidak tertarik menggarap produk ini. Oleh karena itu, upaya “jemput bola” juga dilakukan seperti direct selling dan kegiatan BTL lainnya. Terakhir bank UOB pun sudah mulai agresif masuk ke produk ini. Senjata apa lagi yang bisa ditawarkan lewat direct selling selain proses cepat, bebas iuran tahunan, bunga kecil, dan banyak memberikan diskon?
Pasar Premium
Pada kondisi persaingan yang bergerak ekspansif, misalnya di kartu kredit dan seluler, perang harga memang menjadi senjata, khususnya oleh para pemain menengah-bawah. Proses akuisisi yang dilakukan sering kali membuat kita terheran-heran, apakah cost of acquisition-nya (biaya mengakuisisi) lebih besar dibandingkan customer value yang didapat (bahkan untuk dua tahun mendatang)? Oleh karena itu, untuk mengimbanginya, peran produk premium diperlukan. Kelas premium mendukung margin dari kelas bawah, high end memberi subsidi sementara untuk low-end. Mengapa demikian? Prinsip Pareto (80 persen pendapatan umumnya diperoleh dari 20 persen pelanggan) berlaku. Apalagi pasar premium sudah terbukti tahan terhadap krisis. Personal banking adalah pilihan bank untuk mempertahankan pelanggan premiumnya. Begitu pula kartu seluler, mereka punya strategi khusus untuk memperlakukan pelanggan premium.
Pasar premium agaknya masih menjadi incaran para pemain elektronik di tahun depan. Margin yang ketat di produk low-end, membuat para pemain elektronik juga berpikir untuk menggantungkan diri pada produk high-end. Salah satu produk yang diperkirakan booming adalah TV Plasma. Tahun depan produk ini statusnya masih premium sebelum pada akhirnya—seperti halnya produk elektronik—akan muncul banyak produk low-end. Untuk contoh kasus ini, kita bisa lihat pada produk notebook yang semakin lama semakin banyak mengeluarkan varian low-end. Pasar notebook semester dua tahun 2007 ini bisa tumbuh hampir 50% dibandingkan tahun lalu karena keluarnya banyak produk low-end itu.
Otomotif Masih Hati-hati
Bagaimana dengan sektor otomotif? Tahun depan target penjualan mobil diperkirakan hampir mencapai 500.000 unit, hanya naik sekitar 10% dari tahun ini sekitar 450.000. Melonjaknya harga minyak dunia di akhir tahun 2007 menyisipkan ketakutan akan kenaikan harga BBM lagi yang bisa menekan penjualan otomotif. Oleh karena itu, pelaku di industri ini mengambil langkah yang moderat. Demikian pula dengan industri sepeda motor yang diperkirakan juga tumbuh sekitar 10%. Prediksi harga BBM menjadi pengeremnya, sekalipun perkembangan kredit konsumsi dan mengejar target sebelum pemilu menjadi pendorongnya.
Industri sepeda motor masih menjadi primadona di tahun mendatang, meskipun jumlah sepeda motor sepertinya sudah begitu banyak. Mobilitas yang makin tinggi dan pertumbuhan jalan raya yang semakin menurun membuat transportasi dengan sepeda motor relatif murah. Apalagi persaingan di industri ini juga membuat harga kendaraan ini semakin murah. Motik (motor otomatik) akan menjadi primadona di sektor ini. Diperkirakan motik akan tumbuh sekitar 20-30% tahun mendatang.
Tantangan baru bagi pemain otomotif di masa mendatang adalah polusi dan kemacetan di kota besar yang akan semakin menjadi perhatian pemerintah. Hal ini bisa membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mempengaruhi industri ini. Oleh karena itu, pemain dalam industri otomotif juga mulai kreatif dalam memanfaatkan isu-isu seperti seperti lingkungan atau kenyamanan dalam berkendara di tengah kemacetan. Mobil-mobil kompak dengan ukuran lebih kecil, namun bisa menampung banyak orang, juga masih menjadi pilihan konsumen.
Isu Lingkungan dan Kesehatan
Adanya konferensi pemanasan global di Bali pada akhir tahun ini, setidaknya memang bisa menarik isu lingkungan sebagai masalah nasional. Sekalipun, di mata konsumen, memilih produk karena ramah lingkungan sepertinya masih jauh api dari panggang. Namun, hal ini bisa dipercepat jika ada dorongan dari industri untuk bersama-sama concern terhadap isu lingkungan. Dengan demikian, konsumen bisa
didorong ke arah sana. Masalahnya, pelaku di dalam industrinya juga banyak yang belum siap mengangkat isu lingkungan dan agaknya peraturan pemerintahlah akhirnya yang bisa menggerakkan industri. Ini mirip dengan kasus Corporate Social Responsibility (CSR), di mana pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan di bidang itu untuk mendorong perusahaan lebih memperhatikan komunitas di luar lingkungan perusahaan.
Memang, dibandingkan isu lingkungan, isu kesehatan kelihatannya lebih dahulu mengemuka di tahun ini. Kasus formalin dan bahan buatan membuat konsumen berhati-hati untuk membeli produk makanan yang bukan berasal dari makanan bermerek. Tidak mengherankan jika di tahun 2008 isu kesehatan akan menjadi salah satu unique selling proposition yang dipergunakan oleh marketer. Terutama hal ini terjadi pada produk-produk konsumsi segmen menengah ke atas. Berkembangnya banyak penyakit baru dalam satu dekade terakhir ini, membuat industri farmasi berkembang dan juga makanan kesehatan sebagai bentuk preventif. Penyakit kanker, sakit jantung, dan stroke bukan lagi menjadi “penyakit elite” dan keseimbangan gizi adalah gaya hidup yang akan berkembang di masa mendatang.
Untuk produk khusus untuk wanita, tren produk pelangsing tubuh akan semakin menguat. Mulai dari yang murah-meriah sampai yang harganya puluhan juta. Mulai dari yang butuh proses sampai yang bersifat instan. Bagaimanapun semaraknya isu kesehatan, perilaku masyarakat Indonesia yang “instant minded” masih akan terus ada. Kemampuan produk-produk kesehatan memberi jaminan dalam hal kecepatan memberikan manfaat tetap menjadi ukuran. Ini terjadi pula pada produk kosmetik. Krim pemutih yang bisa memutihkan dalam waktu singkat masih menjadi primadona di industri kosmetik.
Speed Nomor Satu
Dari berbagai kasus yang kita pelajari di tahun 2007 ini dan tren perilaku masyarakat dapat disimpulkan bahwa kecepatan (speed) memegang peranan kunci dalam mengembangkan pasar di masa mendatang. Kecepatan membaca tren pasar, kecepatan mengeluarkan produk yang memenuhi tren pasar, kecepatan bereaksi terhadap kompetitor, dan bahkan produk yang dihasilkan pun harus bisa membantu konsumen dalam hal kecepatan. Dekatnya even Pemilu 2009 juga memacu para marketer untuk bergerak cepat karena diperkirakan pemilu punya dampak terhadap ekonomi.
Kecepatan harus mengemuka dalam pelayanan, di mana proses pelayanan harus bisa dilakukan dalam waktu yang lebih terbatas. Mau tidak mau, teknologi harus semakin diikutsertakan. E-mail dan SMS adalah communication channel dengan pelanggan yang semakin penting, selain layanan call center. Itulah sebabnya Customer Relationship Management (CRM) akan menjadi tools yang harus dipersiapkan secara matang di tahun mendatang, khususnya para pelaku di industri jasa. CRM membantu marketer untuk bisa lebih memahami pelanggan, sehingga dalam memberikan pelayanan juga semakin cepat dan tepat. Untuk itu, CRM yang dikembangkan harus juga dekat dengan unsur teknologi, karena teknologi yang bisa mempercepat dan menjamin ketepatan pelayanan.
Sebagai catatan akhir tahun, Majalah MARKETING selama tahun 2007 ini boleh bersyukur karena ada banyak indikator yang semakin memperkuat posisi kami sebagai leader di majalah bisnis khusus pemasaran. Dari pengamatan kami, MARKETING sudah menjadi alat ukur bagi perusahaan dalam mengukur kinerja di bidang pemasaran. Penghargaan seperti SQ Award, Call Center Award, Top Brand Award dan Marketing Award menjadi penghargaan yang ditunggu-tunggu oleh insan pemasaran.
Tahun ini kami juga berhasil mengeluarkan dua edisi khusus dan semakin mempertebal isi majalah. Tidak lain itu merupakan upaya kami untuk bisa memberi kepuasan kepada pembaca, khususnya dalam kecepatan dan kedalaman memperoleh tren-tren terbaru. Beberapa topik yang kami angkat tahun ini antara lain adalah masalah efektivitas promosi, menghapus dosa-dosa merek, perang harga, ritel sampai masalah brand social responsibility. Topik-topik ini kami rancang untuk senantiasa selalu memberi kesegaran dan inspirasi baru bagi para marketer di Indonesia.
Di luar majalah, aktivitas yang banyak kami lakukan melalui unit-unit bisnis kami terasa semakin mengakomodasi kebutuhan para marketer. Seperti SurveyOne (marketing research), Credo (media maker for CRM), EO-One (event organizer), Marketing Center for Leadership (edukasi) dan juga marketing online. Aktivitas off-print kami pun semakin produktif dengan beberapa seminar inspiratif seperti seminar “Loyalty for Profit” sampai konferensi akbar “Mega Maxi Marketing”.
Itu semua tentunya tak lepas dari dukungan semua pihak, baik para pembaca, pengiklan, klien dan khususnya teman-teman marketer yang setia untuk bergabung dalam Marketing Community dan milis kami. Mudah-mudahan tahun mendatang kami lebih banyak lagi memberikan pelayanan bagi sahabat-sahabat kami ini. Selamat menyongsong tahun 2008!
diambil dari www.marketing.co.id